MENGHENTIKAN BOLA-BOLA KEKERASAN

Keadilan tanpa kekuatan adalah kosong.
Kekuatan tanpa keadilan hanya melahirkan kekerasan.
KALIMAT yang dilontarkan kesatria Chio Beadal dalam film Fighter in the Wind karya Yang Yun-Ho di atas menarik untuk menjadi prolog tulisan ini sebagai respons atas menguatnya perilaku kekerasan dalam kehidupan berbangsa kita. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kekerasan hanya muncul dalam kekuatan yang tidak dilandasi moral dan etika. Sebuah nilai harus memiliki kekuatan. Tetapi jika kekuatan tanpa nilai, ia cenderung represif dan brutal.
Karena itu, kebenaran yang berdiri tegak di atas kekerasan bukanlah kebenaran sejati karena tidak akan melahirkan tatanan baik, melainkan akan mereproduksi dan melanggengkan ketidakadilan dan ketimpangan.
Mulai ranah domestik hingga ke ruang publik, kekerasan tidak pernah luput mewarnai kehidupan bernegara kita, entah itu ruang pendidikan, agama, maupun politik. Kekerasan menjadi semacam laku yang inheren dari kehidupan berbangsa.
Aksi kekerasan di berbagai institusi pendidikan, munculnya geng Nero, bahkan awal bulan lalu kekerasan menyelimuti tindakan beragama kita. Apa pun bentuknya, aksi kekerasan atas kekerasan tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah.
Kebenaran dan Kekuasaan
Kekerasan acapkali terjadi ketika kebenaran diklaim secara tunggal dan sepihak. Klaim absolut atas kebenaran mencuat karena kebenaran dilihat dalam kacamata tunggal yang memunculkan persoalan ketika berbenturan dengan mileu kebenaran di luar yang diyakini. Absoluditas dan klaim kebenaran tersebut kemudian akan berakhir tragis ketika dipahami adanya dimensi sakral di dalam kebenaran yang dipegang.
Kebenaran yang hakiki dan abadi adalah miliik Tuhan. Akal manusia tidak akan pernah mampu menggapai sepenuhnya kebenaran mutlak. Saat manusia berusaha mengidentifikasi kebenaran, saat itulah dia melakukan proses hermeneutis. Karena dia melakukan proses hermenutis, makna yang ditangkapnya bukan kebenaran mutlak, melainkan kenisbian.
Di ruang agama, kebenaran yang diimani cenderung dianggap manifestasi keuniversalan sehingga corak di luar keyakinannya diklaim salah dan sesat.
Praktik beragama dipersepsi sebagai ajaran agama yang sebenarnya, bukan sebagai bentuk tafsir atas nilai-nilai agama yang universal. Sementara itu, fatwa melabelkan sesat dan menyesatkan terhadap kelompok lain pun tidak dapat dihindari. Saat itulah, kekerasan menjalar dan terlegalkan.
Pada dasarnya, kekerasan tidak dekat dengan kebenaran, melainkan merupakan wajah lain dari kekuasaan. Kekerasaan merupakan strategi subjek untuk membungkam gerak objek yang dianggap mengancam kekuasaannya. Rasa keterancaman yang sangat kepada entitas lain kemudian memunculkan reaksi menumpas entitas yang mengancam tersebut. Salah satu caranya adalah melalui kekerasan.
Mengapa? Sebab, kekerasan masih diyakini sebagai mediasi paling ampuh melumpuhkan lawan, seperti kekerasan negara ketika memangkas gerakan rakyat yang mengancam kekuasaan.
Kebenaran yang dibarengi dengan hasrat berkuasa cenderung menutupi celah salah dalam kebenaran itu sendiri. Kekuasaan bersembunyi dalam jubah kebenaran. Seperti keyakinan Max Weber, Machiavelli, maupun Hobbes, kekuasaan dan kekerasan tiba-tiba menjadi dua kata yang tidak terpisahkan. Kebenaran dan hasrat berkuasa menjadi kabur karena sama-sama berada di balik bola-bola kekerasan yang dimainkannya.
Memutus
Kekerasan meluluhkan dan mencederai etika berbangsa kita. Kekerasan seolah menjadi bola yang terus dikejar, direbut, dan digiring. Karena itu, melesakkan kekerasan ke jantung lawan menjadi kepuasaan yang tiada tara.
Akhirnya, etika dan moral berbangsa pun roboh. Pertikaian dan perpecahan sesama anak bangsa tidak dapat dielakkan. Semua entitas ingin menguasai orang lain dengan menghujamkan kekerasan, bukan kedamaian. Inikah tesis yang dimaksud Rene Girard bahwa tatanan sosial dibangun dari batu-batu kekerasan?
Segala kekerasan dan atas nama apa pun harus dihentikan. Bola-bola kekerasan yang kita mainkan secara telanjang ke publik tidak akan melahirkan kebenaran dalam membangun tatanan sosial dan politik yang kukuh. Kekerasan hanya melahirkan realitas semu. Rezim kekerasan tidak akan mampu membangun stabilitas esensial, melainkan menyuguhkan stabilitas artifisial. Di dalamnya bergemuruh dendam dan kebencian untuk melahirkan kekerasan baru, saling bunuh, dan saling menumbangkan.
Karena itu, bola-bola kekerasan harus segera digantikan oleh bola yang indah dan menenteramkan. Memutus rantai kekerasan tidak dapat ditawar lagi. Jika bola-bola kekerasan tersebut kita mainkan dalam segala ruang aktivitas politik, sosial, budaya, dan berbangsa kita, bangsa dan bahasa persatuan kita akan diganti oleh bahasa kekerasan.
Kini bangsa Indonesia harus merenung akan memilih yang mana, menghentikan atau membiarkan bola-bola kekerasan itu bergerak liar dalam seluruh kehidupan kita?
* Agus Hilman, peneliti pada The Nationalism Institute (www.nasionalismeinstitut.com) // Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos, 23 Juni 2008 (www.jawapos.com)


Kebenaran yang hakiki dan abadi adalah miliik Tuhan.. Point penting dari tulisan diatas bila dihubungkan dengan salah satu kekerasan yg terjadi (peristiwa monas). Manakala pihak2 yg terlibat tidak menyadari, tidak melakukan introspeksi diri, yakin yg dilakukan itulah yang paling benar, dapat dipastikan kedamaian, ketentraman hanya menjadi dambaan….”Merasa lebih benar”, akan membunuh bibit2 kebersamaan, merubahnya menjadi pertikain yg tidak berujung dan mengoyak harmonisasi kehidupan…….
“Mari hidup berdampingan, dan biarkan tangan Tuhan yang berbicara”
Saya tidak pernah sanggup melihat kekerasan di tanah negeri ini … ngeri rasanya :)
Keadilan tanpa kekuatan adalah kosong.
Kekuatan tanpa keadilan hanya melahirkan kekerasan. .
nahh itu udh dijawab mas…
anti kekerasan.
peace, love and gaul…
gitu aja lah.. biar sama-sama enak dan banyak temen karena senang bergaul… :)
stop kekerasan deh…
lebih baik nonton bola aja tapi udahannya ga ada kekerasan :)
waaah sudah dimuat di koran? ayo makan-makan :D
harus dihentikan!
JP maknyosss,,, selamat…
Salam Kenal. Selamat Dimuat di JAWA POS. TABIK!
Selamat bung Hilman untuk JPnya. Semoga saya cepat menyusul. Salam
Selamat4 kesekian kalinya tulisanmu dimuat_
pokokknya top abis deh…
btw ane diajari nulis ne….
Dlam masyarakat yang heterogen akan memuncul komunitas berdasarkan “Persamaan” dan antar komunitas
memiliki karakteristik tersendiri yang pada akhirnya memunculkan tindakan2 pembenaran subyektif dgn menyalahkan klompok /komunitas lain diluar
maenstremnya.
dan sangat tidak dibenarkan jika tindakan tersebut (pembenaran subyektif ) dilakukan dengan cara anarkis dan tidak terpuji seperti yang terjadi pada kasus MONAS dengan FPI sebagai aktornya.
wah si abang, udah jadi peneliti dan essais propesional.
salut bang.
@ rita
bener banget bun, kita semua gelisah….selain perubahan, mungkin kekerasan juga abadi.. :( hikhik…
@ rindu
karena kitorang rindu kedamaian….!!!
@ kucingkeren
heheee…itukan jawabnnya chio beadal mbak…
@ Farid Yuniar
sepakat banget kang….
@ tukangobatbersahaja
hihiiii…tapi habis sepak bola lebih banyak lempar batunya daripada bola yg golnya ke gawang…
@ chic
emoh ah ngajak chic, lebih baik ngajak savio azah…he
@ sucikeren
secepatnya…!
@ aal
tengkiyu al…mmmuuuachhh
@ Edy Firmansyah
salam kenal juga kawan…tabik juga….
@ Benni
tengkiyu juga bung ben..!! jangan menyusul, ntar di salip sama Rossi…hehehee
@ tantowi
makacih wi…eh, aku nggak nyebut2 FPI-nya lho…tapi siapapun yg melakukan kekerasan !
@ arifrahmanhakim
ah si bang arif ada-ada aja…itu semua karikatif aja bang…hehehe
stop violence!! Piss.. tulisane keren bro
apapun… damai emang lebih baik..
ribut2 terus kan capek sih
mulai dari diri kita
menjadi peebar kasih sayang :)
yg di STIP itu sadis banget ya…
sepertinya kekerasan menjadi sebuah tren. salah siapa?. semua orang pasti gak pernah ngaku salah.
seharusnya ada jalan lain yang jauh lebih cerdas daripada kekerasan, kasian negara ini… sudah banyak noda dan darah mewarnai perjalanannya…
salam kenal.
tabik!
aku jg gak ngerti, kenapa harus melalui kekerasan selagi bisa dilakukan dgn cara damai..?
Mai… hanggadamai… kemana yah dia?
:D
tapi kenapa siy yaa masyarakat indo ini blm bisa belajar dr kesalahan yg sudah2…..kan udah jelas bgt bahwa kekerasan cm mendatangkan kerugian untuk pihak manapun….ngga ada yg diuntungkan…
aggghhhh cape deh
keras boleh.. tapi nek kekerasan ya terlalu… :)
lelah batin…
hehe.. iya man_
aku cuma mencoba memberikan salah satu contoh (seperti) konkrit aja… hehe
ckckckc..*sambil geleng2 kepala..*
salut nih…salut..
tulisannya dah dimuat dikoran ya..??
oiya..salam kenal ya mas..
makasi dah berkunjung ke blog aku yg sangat2 biasa bgt
jadi minder ngeliat tulisan mas yg bagus2 gini..:lol:
akhir-akhir ini kita disuguhkan dengan kekerasan dengan berbagai motivasi. namun yang perlu kita renungkan adalah mengapa harus terjadi kekerasan jika kita mau mengedepankan akal pikiran yang jernih untuk menyelkesaikan yang ada. kebenaran memang bisa dikalahkan tetapi tidak bisa disalahkan.
Belum ada tulisan baru yah … saya mampir kesini terus, masih ini ini juga, hahahaha :)
Memang tak seharusnya ada kekerasan di muka bumi ini, tapi hal itu tidak mungkin…,selama manusia masih memiliki nafsu…,tapi setidaknya kita bisa mencegah dan menahan diri…,kita semua pasti cinta kedamaian kan?…
kekerasan memang hal yang mengerikan
bisa jadi trauma bagi yang pernah mengalaminya
moga dapat di hemtikan mas
Semangat buat memberantas kekerasan di muka bumi ini