Politik Mulitkultural, Mungkinkah?

•Februari 28, 2009 • & Komentar

Lama saya tidak mentautkan jemari menekan huruf demi huruf di blog reotku ini. Sekali nulis, saya cuatkan wacana politik pula. Daripada tidak sama sekali.

Tema ini sangat berkaitan dengan beberapa hari lagi kita akan menghadapi Pemilu 2009, tanggal 9 April mendatang. Sebagian orang mungkin tidak begitu peduli dengan moment pergantian kepemimpinan ini, karena toh tetap juga tidak melahirkan pemimpin yang berkualitas. Tapi semoga saja, peluang citizen dalam menentukan calonnya pada Pemilu kali ini memberikan ruang bagi munculnya, setidaknya, pemimpin yang lebih baik.

Satu bulan sebelum hari H Pemilu merupakan fase-fase dimana kondisi cukup rentan. Karena pada masa-masa ini semua kekuatan akan mencuat yang mengeluarkan sekuat tenaga untuk bertarung habis-habisan. Babak-babak inilah yang paling menentukan. Dan, biasanya pada babak-babak yang menentukan, berbagai macam benturan akan sulit untuk dihindari. Konflik kekerasan, intimidasi, money politics, black campaign, dan beragam trik dan intrik poliik ala Machiavellian akan sulit untuk dieliminasi.

Disinilah kemudian kita membutuhkan satu paradigma Politik Multikultural dimana politik digerakkan dalam langgam etika saling menghormati satu sama lain, baik perbedakan etnik, atau apa pun itu. Payung semua bermuara pada upaya untuk menjaga etika dalam berpolitik, tanpa mengumbar kekerasan, intimidasi, dan keculasan.