HIJRAH DARI LANGIT KE BUMI

Oleh AGUS HILMAN

KONDISI bumi yang mulai tidak nyaman lagi untuk disinggahi menjadikan setiap gagasan yang memerhatikan lingkungan mendesak dipraksiskan. Beberapa Ormas Islam juga sudah mulai melirik wacana tersebut, seperti pembentangan spanduk raksasa bertulis kampanye ancaman global warming di depan kantor pusat PBNU di Jakarta . Peran itulah yang akan kita renungkan dalam momentum Tahun Baru Islam 1429 Hijriyah di tengah tangis pilu rakyat diterpa bencana yang menimpa bangsa ini.

Perubahan cuaca sudah dapat kita rasakan setiap hari. Iklim yang semula datang dalam siklus yang teratur, tiba-tiba datang tanpa prediksi. Bencana pun datang tak terbendung. Daniel Murdiyasro, peneliti senior Centre for International Forestry Research (CIFOR) menjelaskan bahwa bencana di Indonesia mencapai 2.800 per-dekade mulai 1990-an. Frekuensi tersebut jauh meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1940-an yang hanya 100 per-dekade.

Bencana seolah menjadi pemandangan yang biasa dan lumrah. Seluruh wilayah Jawa nyaris tiada yang luput dari bencana. Setelah banjir, diperkirakan ancaman kemarau La Nina kemudian akan datang. Sepanjang empat tahun terakhir, berapa ratusan ribu korban nyawa melayang di negeri ini karena bencana alam. Bahkan tidak hanya di Indonesia, Bangladesh pernah dihantam badai Sidr berkecepatan 250 kilometer perjam yang menelan 3.000 korban jiwa.

Sebuah renungan bagi umat manusia bahwa kemajuan nalar telah membawanya menjadi sesosok makhluk yang angkuh dan merasa superior atas alam. Manusia pun semakin liar memenuhi kebutuhannya. Sayang, karena larut euphoria renaissance, upaya Svante Arrhennius, ilmuwan asal Swedia yang mengingatkan masyarakat Eropa pada tahun 1894 tidak digubris bahwa kelak akan terjadi peningkatan suhu bumi yang mengancam manusia akibat penggunaan karbon diokasida (CO2) yang berlebihan.

Karena itu, menelisik postulat pemikiran di atas, dalam momentum tahun baru hijiriyah, corak teologi kita harus berhijrah dari yang semula melangit untuk lebih membumi. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah yang diabadikan oleh Umar bin Khattab r.a menjadi kalender Islam memberi pesan agar manusia tidak melulu memikirkan masalah langit (baca; ukhrawi), tapi juga harus mengurus bumi.

Ayat-ayat al-Qur’an yang turun di Madinah lebih banyak berisi tentang persoalan-persoalan dunia; muamalah, kontrak sosial, etika terhadap manusia dan alam. Berbeda dengan ayat-ayat yang turun di Makkah yang lebih dominan bercorak teologis. Karenanya, hijrah mengajarkan agar agama memperhatikan persoalan yang mengitari kehidupan di bumi, selain tetap menjaga tali hubungannya dengan Tuhan.

Faktanya, kepedulian agamawan terhadap lingkungan masih sangat kurang. Alih-alih mengharapkan sebuah desain komprehensif tentang fikih bumi/lingkungan, sikap dalam melihat bencana pun masih bermasalah. Bencana masih dilihat an sich takdir, sehingga cenderung mengabaikan adanya ulah manusia dalam merusak alam. Padahal, manusia memainkan peran besar dalam merusak alam sebagaimana banjir yang melanda hampir seluruh pulau Jawa.

Isu lingkungan akan menjadi tantangan serius bagi kehidupan manusia di masa yang akan datang. Sebagai konsekuensi fungsi agama untuk manusia, maka agama selalu dikreasikan untuk menopang segala upaya demi keberlangsungan hidup umat manusia. Agama yang baik adalah agama yang menjaga dan melestarikan, bukan menghancurkan dan memusnahkan kemanusiaan. Demikian Hans Kung menegaskan. Karenanya diperlukan rekayasa teologis untuk kepedulian lingkungan sebagai format agama di masa yang akan datang.

Stephen Sulaiman Schwartz dalam bukunya The Two Face of Islam : Saudi Fundamentalism and Its Role Terrorism menjelaskan jika agama tidak memberikan konstribusi bagi kehidupan manusia, despotik, dan acuh terhadap kehidupan, tidak menutup kemungkinan akan lenyap ditinggalkan sebagaimana dialami agama pagan. Corak teologi yang hanya mengurus Tuhan an sich dan melupakan persoalan bumi tidak akan bertahan lama. Masa depan agama akan ditentukan sejauhmana ia bermanfaat untuk kehidupan dan kepentingan kehidupan manusia di bumi.

Sebagai wakil Tuhan di bumi (khalifah fi al-ardhi), manusia harus menjaga kelestarian alam. Keterciptaan manusia dari tanah memerankan bumi laiknya “ibu” yang melahirkan Adam hingga beranak-pinak. Sebagai “ibu” ia harus dirawat dan dikasihi, bukan dieksploitasi tanpa moral dan etika. Itulah tugas sejati kekhilafahan manusia atas bumi. Dengan demikian, agama tidak melulu mengurus langit dan melupakan urusan bumi. Karenanya, teologi kita harus berani berhijrah ke bumi. []

Iklan
HIJRAH DARI LANGIT KE BUMI

Satu pemikiran pada “HIJRAH DARI LANGIT KE BUMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s