HIJRAH MENUJU PERDAMAIAN

Oleh AGUS HILMAN

FAKTA yang diungkap Indonesian Confrence on Religion and Peace (ICRP) di Kedai Tempo Jl.Utan Kayu, Jakarta pada Desember lalu, bahwa sepanjang tahun 2007 kekerasan masih menyelimuti praktik keberagamaan di negeri ini, menarik dijadikan bahan renungan untuk menyambut Tahun Baru 1429 Hijriyah. Pantauan ICRP tersebut mengungkap bahwa terdapat 32 kelompok masyarakat yang menjadi korban kekerasan beragama. corak kekerasan masih melekat dalam praktik keberagamaan kita. Sebuah kenyataan yang menunjukkan bahwa mainstream corak teologi yang dipraktikkan masih belum dapat menjauhkan diri dari perilaku barbar, despotik, dan dishumanis. Berteologi pun identik dengan berperangai kasar.

Perlakuan yang diterima kelompok seperti Ahmadiyah, al-Qiyadah al-Islamiyah, Komunitas Eden yang selama ini terlihat merupakan sebagian kelompok yang memperoleh perlakuan keras tersebut. Mereka tidak hanya dihujat, tetapi juga mendapat lemparan, pukulan, dan intimidasi oleh kelompok yang justru mengatasnamakan agama. Bagi pelaku, kekerasan baginya dilakukan karena panggilan teologis atas apa yang diperintahkan Tuhan. Kitab suci dijadikan legitimasi. Mereka cenderung mengklaim benar (truth claim) atas apa yang dipahaminya, sehingga perlakuan keras jadi legal terhadap mereka yang dianggap menyimpang.

Kekerasan beragama sepanjang tahun lalu di atas, menandakan bahwa klaim rahmatan lil ‘alamien belum menjadi laku yang terintegral di dalam kesalehan. Ibarat panggang jauh dari api. Sangat disayangkan kemudian muncul cibiran miring bahwa agama hanya mengumbar kekerasan dan darah. Karl Marx justru menyindir agama sebagai candu. Pendekatan persuasif dan welas asih yang sebenarnya dimiliki oleh Islam tenggelam begitu saja. Ratusan doktrin kasih dan toleransi tenggelam oleh sebiji ayat melegalkan kekerasan, walau ayat tersebut masih perlu ditafsirkan kembali.

Harus diakui, di dalam teks-teks suci terdapat beberapa ayat yang melegalkan kekerasan untuk menegakkan kebenaran agama Tuhan di bumi. Terlepas dari apakah ayat kekerasan di dalam teks tersebut bersifat defensif (baca; upaya pertahanan karena penyerangan) maupun opensif, kekerasan tetaplah kekerasan yang dapat manjadi stimulus terlegitimasinya kekerasan dalam laku keberagamaan. Hamparan sejarah agama yang dirimbuni konflik kemudian semakin memperkukuh tersemainya praktik tribal tersebut. Pengaruh teks dan historis itulah yang mempenetrasi tumbuhnya kesadaran untuk menjadikan kekerasan sebagai langkah yang normal dalam menjaga stabilitas agama.

Kekerasan yang secara spirit dipengaruhi oleh kedua hal di atas kemudian semakin melembaga ketika hasrat evangelis yang ekspansif masih melekat. Apalagi upaya memperoleh umat masih berorientasi pada pencapaian kuantitas, bukan pada kualitas sehingga perbedaan pun menjadi ancaman karena tidak diposisikan pada pradigma kompetitif, melainkan diasumsikan pada sepektrum yang konfrontatif. Segala aktivitas kelompok maupun agama lain dipandang sebagai entitas yang mengancam eksistensi agamanya sendiri. Disinilah kekerasan sebagai upaya defensif dilakukan karena memaknai perbedaan sebagai sebuah ancaman.

Meruntuhkan Otentisitas
Kebenaran yang hakiki dan abadi adalah miliik Tuhan. Akal manusia tidak akan pernah mampu menggapai sepenuhnya kebenaran mutlak, melainkan hanya mendekati. Tuhan hanya memberikan garis minimal dari kebenaran yang itupun masih dapat salah. Sebab, saat manusia berusaha mengidentifikasi kebenaran, saat itulah dia melakukan proses hermeneutis. Karena dia melakukan proses hermenutis, makna yang ditangkapnya pun bukan kebenaran mutlak, melainkan sebuah kenisbian atau apa yang disebut Derrida sebagai makna yang tertunda. Disitulah kemudian letak fleksibilitas sebuah ajaran yang mendorongnya — apa yang dikatakan Tuhan – menjadi abadi dalam ruang dan waktu (sholih fi kulli al-zamān wal al-makān).

Akan tetapi, ideasi di atas belum sepenuhnya dipahami dan diyakini oleh para pelaku beragama. Ajaran yang diimani cenderung dianggap sebagai manifestasi ajaran otentik Islam, sehingga corak diluar keyakinannya diklaim sebagai terdakwah, salah, dan sesat. Akhirnya, praktik beragama salah dipersepsi sebagai ajaran agama yang sebenarnya, bukan sebagai bentuk tafsir atas nilai-nilai agama yang universal. Sementara itu, fatwa melabelkan sesat dan menyesatkan terhadap kelompok lain pun tidak dapat dihindari. Saat itulah, kekerasan menjalar dan terlegalkan.

Pada sisi lain, kelompok-kelompok yang melakukan kekerasan terhadap kelompok agama lain, justru bisu ketika ketimpangan sosial terjadi. Masalah sosial seperti kemiskinan, kelaparan, praktik korupsi, dan bencana alam yang memakan korban, termarjinalkan oleh semangat untuk “membela” Tuhan. Alih-alih diperhatikan, terkadang masalah sosial senantiasa dilihat secara normatif sebagai bentuk hukuman Tuhan karena tidak menjalankan ajaran agama. Banjir, kekeringan, tsunami, kelaparan, dan kemiskinan dipandang sebagai takdir.

Hijrah Menjalin Persaudaraan
Peristiwa hijrah, perpindahan Nabi dari Makkah ke Madinah merupakan momentum penting dalam sejarah Islam yang menarik dipetik maknanya. Hijrah merupakan tonggak awal Islam dalam membangun peradaban. Muhammad meninggalkan Makkah yang dipenuhi kebencian dan caci-maki terhadap Islam menuju negeri Madinah yang ramah dan penyayang. Atas dasar itu, Umar bin Khattab pada masa kekhalifahannya mengabadikannya menjadi kalender bagi umat Islam, Hijriyah.

Di Madinah, Nabi Muhammad menjalin perjanjian perdamaian antara Islam dan Yahudi untuk membangun sikap saling menghormati yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Masing-maing kelompok diharuskan saling menghargai dan menghormati perbedaan sebagai inti perjanjian tersebut. Para pemerhati sejarah Islam seperti Montgomery Watt, Karen Armstrong, John L. Esposito, menilai perjanjian tersebut sebagai langkah yang sangat cerdas dalam membangun kehidupan yang koeksisten antar-kelompok pada zamannya..

Tali kasih persaudaraan yang diberikan kaum Anshor dari penduduk setempat kepada Muhajirin yang nota bene adalah pendatang, mengajak kepada umat agar berlaku kasih kepada sesama; saling menghormati, membahu, dan bersatu. Karenanya, peristiwa hijrah memberikan pelajaran agar umat menjalin kasih antar sesama. Politik dibangun di atas pemberdayaan terhadap orang-orang yang terpinggirkan. Ajaran-ajaran sosial Islam lebih banyak turun di Madinah daripada di Makkah.

Dengan demikian, pada awal tahun baru Hijriyah ini corak teologi barbar, despotik harus ditinggalkan (hijrah) menuju berteologi yang humanis dan menghormati perbedaan. Agama rahmatan lil ‘alamien yang sebenarnya, tidak akan pernah berteriak “Allahu Akbar!” untuk melegalkan tindakan seronok terhadap sesamanya hanya karena berbeda pandangan. Misi itu terwujud akan terwujud jika sistem laku keberagamaan menjiwai spirit hijrah Nabi Muhammad untuk membangun peradaban yang berkedamaian. Wallahu A’lam. []

Iklan
HIJRAH MENUJU PERDAMAIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s