PULAU BURU YANG TAK BOLEH DILUPAKAN

daryun.jpg

Oleh AGUS HILMAN

MENDENGAR Pulau Buru, bulu kuduk berdiri. Di sana, ribuan orang dibuang dan disiksa, karena dituduh oleh pemerintah Orde Baru sebagai antek partai komunis yang paling dimusuhi oleh rezim tersebut selama kekuasaannya. Di pulau yang dirimbuni pohon-pohon minyak kayu putih itu pula, seorang punggawa sastrawan bangsa, Pramoedya Ananta Toer di buang karena ketajaman karya-karya sastranya dianggap dapat merobek kekuasaan Soeharto kala itu. Kini Pulau itu telah menjadi kabupaten di Propinsi Maluku.

Sebelum cahaya senja, kami (Saya, Eko Cahyono, H. Agussalim Sitompul, dan Husein sebagai petunjukan jalan) tiba di Pelabuhan Buru. Para buruh angkut sibuk menawarkan jasanya. Deburan ombak pantai yang kecil seperti riaknya air danau seolah tidak mengetahui betapa letih mengapung di atas kapal Fery semalaman penuh. Meski cuaca gelombang tidak besar, perjalanan 12 jam begitu melelahkan. Berbagi oksigen dengan sekitar 150 penumpang di kapal Fery yang super mungil membuat gerah dan panas. Apalagi kondisi badan saya saat itu nge-drop. Dari Ambon berangkat pukul 17.00 dan sampai di tujuan esoknya sekitar pukul 05.00 waktu setempat. Kalender saat itu menunjukkan tanggal 10 Desember 2007. Sebenarnya, kami akan naik kapal cepat, bukan kapal Fery. Tapi sayang, kapal ekspres yang berdaya tempuh empat jam Ambon-Buru dan hanya beroperasi sekali sehari tersebut, tidak dapat kami kejar. Berlayar dengan Fery pun harus dilakukan. Kami langsung menuju kecamatan Namlea, jantung kota kabupaten Buru yang baru berdiri kurang lebih tiga tahun. Kecil dan cukup padat, karena dikurung oleh bukit dan hamparan laut. Jika dibandingkan, lebih luas bandara Soekarno-Hatta daripada kota Namlea. Lokasi bermalam sudah disediakan di Grand Sarah Hotel. Meski hanya dua lantai dan berkapasitas sekitar 30-an kamar, hotel itu tergolong paling mewah dan berisi lumayan lengkap. “Abang cari yang paling mewah dari hotel ini di sini, tidak bakal ada”. Kata Dino, Ketum HMI Cab. Namlea, ketika menyambut kami dengan hangat dan rela meluangkan waktunya. Tarif bermalam paling rendah Rp. 250 ribu.Perlu diketahui, meski usia tergolong muda, HMI menjadi satu-satunya organisasi mahasiswa yang terbesar di Namlea. Setiap mengadakan hajatan, seperti Intermediate Training, ratusan bendera-bendera HMI sudah terpajang dari pelabuhan hingga lokasi training. Jaringannya menembus hingga lapisan terbawah. Bahkan, penjaga tiket masuk pelabuhan pun masih menjadi anggota aktif HMI.  

Minyak Telon dan Pasar Lambelu

Di pulau Buru, pohon minyak kayu putih tumbuh liar dengan sendirinya, seperti ilalang dan rumput. Jika membiarkan tanah tidak tergarap, pohon minyak kayu putih tumbuh sendiri. Di kala musim kemarau, pohon-pohon minyak kayu putih yang mengering acap terbakar. Tapi terbakarnya pohon tersebut juga membawa keberuntungan. “Pohon-pohon yang sudah terbakar, nanti minyaknya jadi lebih banyak”. Begitu ungkap Iful dengan logat khas Ambon, salah seorang pemuda Namlea. Memang, terlihat banyak pohon menghitam bekas terbakar. Lahan-lahan itu seperti tak bertuan Tidak terurusi.

Terlintas dalam benak, betapa kaya negeri ini.Begitu banyak khasanah di Pulau Buru yang belum terjamah oleh kerasnya kehidupan modern. Kekayaan alam yang besar dan kehidupan yang damai. Tidak ada rasa sedikitpun nuansa bekas Pulau pembuangan tapol/napol apalagi nuansa konflik bersaudara di Maluku yang sempat berimbas di sana. Bagi warga setempat, tamu bagaikan raja. Beberapa pekan sekali, teradapat pasar yang disebut pasar malam Lambelu. Nama tersebut sedikit ganjil, karena Lambelu adalah sebuah nama kapal besar yang mengangkut penumpang dari Jawa, Sulawesi, Ambon, hingga Papua. Para penjual umumnya berasal dari Sulawesi. Mereka menafaatkan kapal Lambelu yang ke Papua yang melintasi Namlea. Dua hari kemudian, kapal besar itu akan singgah kembali di Namlea. Para pedagang-pedagang pun akan bergegas kambali pulang ke asal mereka masing-masing menggunakan kapal Lambelu. Karena itulah, pasar malam tersebut dinamakan Lambelu dan hanya beroperasi selama dua malam.

Untuk masalah gizi, masyarakat sekitar Namlea terjamin. Ikan laut sudah jadi makanan sehari-hari dan biasa. Makan tanpa ikan laut, santapan seolah kurang lengkap. “Bahkan, ikan sebesar lengan bisa dapat Rp 10 ribu,” ungkap Aswad, pemilik toko plastik di pasar Namlea yang mangaku pernah kuliah di Yogyakarta. Tapi, pemuda berkulit sawo matang itu menyampaikan keluhan nelayan yang pendapatan ikannya kini tidak seperti dulu lagi.   

Saksi Kekejaman Rezim

Empat hari setelah menginjak pulau Buru, baru kami punya kesempatan melihat tempat pembuangan para tapol/napol. Rugi rasanya datang jauh-jauh ke pulau Buru jika tidak mengunjugi lokasi tapol/napol. Asvi Warman Adam menyebutkan, di Pulau inilah tempat dibuangnya sekitar 10 ribu tapol peristiwa 1965 pada tahun 1969.Mereka yang dibuang di Pulau Buru disiksa dan disakiti. Jauh dari keluarga dan distigmakan sebagai PKI dan pengkhianat Negara. Ribuan tahanan yang dibuang tersebut, dipaksa untuk membabat hutan menjadi lahan sawah, jembatan, merambah jalan. Tahun-tahun pertama pembuangan golongan B, pulau Buru masih hutan lebat dan gelap. Tapol yang masuk golongan B mendapat hukuman dengan dibuang ke Pulau Buru. Golongan A, dapat dipastikan tidak hidup. Sementara golongan C, lebih ringan. Terakhir pembuangan massal tapol/napol ke Pulau Buru yang terjadi tiga kali gelombang terjadi pada tahun 1971.

Walau mereka dicampur dengan masyarakat yang transmigran, pada rezim Orba tapol/napol mendapat kawalan yang sangat keras.  Dipenuhi rasa penasaran itu, sekitar pukul dua siang waktu setempat, kami berangkat ke Unit. Biasanya, orang-orang di Pulau Buru menyebut lokasi pembuangan para tapol/napol dengan sebutan Unit. Jumlah unit cukup banyak dan berjarak satu sama lain sekitar 4-5 kilometer. Ada juga unit pembuangan yang sampai sekarang masih disebut Mako (Markas Komando). “Unit-unit tersebut tidak berurutan. Meski ada Unit empat belum tentu ada unit tiga, umpamanya begitu”. Ungkap Saefuddin warga setempat.

Tempat-tempat tersebut kini sudah punya nama daerah sendiri. Misal, unit empat masuk wilayah Savanajaya, ada juga Waeapu. Walau begitu, warga Buru kadang masih tetap menyebutnya unit. Dulu, para tapol/napol dicampur dengan para transmigran. Tapi, tapol/napol tetap berada dalam pengawasan tentara.Mobil melaju kencang. Jalan berkelok-kelok kami lalui. Saya, bersama teman-teman dipandu Dino. Rute pertama kami langsung menuju lokasi terdekat, unit empat, Savanajaya. Jarak tempuh dari Namlea memakan sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan hanya terlihat bukit-bukit gundul yang dirimbuni pohon minyak kayu putih yang mulai mengering. Sesekali indahnya laut Pulau Buru terlihat jelas ketika melintasi ketinggian.

Mobil angkutan umum cukup langka. Alat transportasi darat lebih banyak menggunakan jasa ojek. Uniknya, di sana terdapat becak. Karenanya, jika ingin mengelilingi Pulau Buru, di Namlea terdapat jasa rental mobil. “Disini nyewa oto 500 ribu per-hari, bang.” Dino menjelaskan dengan logat khasnya pada kami sedang menikmati perjalanan menuju unit.Tidak terasa kami sudah tiba di Savanajaya yang dulu disebut unit empat. Tidak seperti yang dibayangkan. Tempat pembuangan itu cukup maju dan ramai. Jalannya sudah hot mix. Sawah disekitar di pinggir jalan rumah-rumah sangat luas, sejauh mata memandang. Di sini, terdapat pasar yang kelihatannya baru dibangun, tapi nampaknya belum berfungsi maksimal. Waktu menunjukkan pukul 3 sore waktu Indonesia timur (WIT).

Dino langsung memperkenalkan kami dengan orang tua angkatnya, bekas tapol/napol yang pernah dia ceritakan bertetangga dengan Pramoedya Ananta Toer. Beliau menyambut kami dengan hangat penuh semangat. Kami pun begitu gembira dan langsung memulai percakapan seputar bangsa. “Saya seperti usia 20 tahun lagi, kalau membicarakan perjuangan anti-amerika dan nekolim.” Demikian ungkap bapak yang memperkalkan dirinya dengan nama Daryun tersebut. Pal Daryun membuka memori sejarahnya dengan semangat. Sempat dia mengeluhkan kaum muda saat ini yang kurang mengerti sejarahnya sendiri. Malah larut dalam budaya hura-hura. Begitu semangat dia bercerita, apalagi membincangkan kelicikan ekonomi Amerika. Sebaliknya, kami selaku pemuda merasa kalah dengan semangat membaranya.

Pak Daryun, salah satu dari 10 ribu tapol/napol yang dibuang oleh rezim militer Soeharto karena dituduh terlibat dalam pemberontakan tahun 1965. Sejak di buang ke Buru, dia tidak pernah pulang ke kampung halamannya di Bandung, Jawa Barat. “Saya dibuang sekitar usia 27 tahun”, ungkap lelaki yang pernah keluar di MetroTV saban 30 September tersebut. Siksaan selalu diterimanya. Mereka dipaksa membuat jalan, jembatan, dan lainnya. Banyak nyawa melayang. “Yang paling banyak mendapat siksaan hingga tewas berasal dari tapol/napol yang berusia muda.” Tutur pak Daryun dengan prihatin. Perlakuan itu, mematri trauma mendalam. Sesekali beliau takut bertutur lepas pada kami soal sejarah 1965, seperti berhadapan dengan rezim Orba.  

Dengan logat Sunda yang masih terasa, kawan Pramudya tersebut banyak menuturkan sejarah kelam bangsa. Dia menegaskan dirinya sebagai pengagum Soekarno. “Saya orang yang berada di Bawah Bendera Revolusi,” menegaskan berkali-kali kepada kami. Kendati demikian, Pak Daryun yang terlihat bugar diusianya yang ke-62 itu, toh tetap dibuang ke Pulau Buru hingga kini beliau dianugerahi dua anak hasil dari pernikahannya pada tahun 1982. 

Ada cerita menarik dari pak Daryun tentang keberanian Pramoedya Ananta Toer. Suatu hari, Jenderal Sumitro datang ke barak-barak tapol/napol. Semua orang berdiri hormat, tapi Pram memilih duduk santai sembari beteriak, “Wahai Jenderal, apa yang kamu cari, lepaskan seragammu yang berlumuran darah itu !”. Para pengawal siagap ingin menghajar Pram, tapi Sumitro memerintahkan agar Pram dibiarkan saja karena menurutnya Pram sudah tua dan sudah bau tanah.“

Sumbangsih para tapol/napol bagi kemajuan Pulau Buru demikian besar. Mereka umumnya berasal dari kalangan terdidik, cerdas, dan memiliki wawasan kemadiran bangsa yang tangguh. Kini dari mereka ada yang dipekerjakan Pemda seperti menjadi arsitek. Bahkan ada yang jadi dewan daerah. “Jika tidak ada tapol/napol, Pulau Buru tidak akan seperti saat ini”, ungkap seorang pemuda setempat.    

Aset Sejarah yang Terabaikan

Banyak tempat-tempat sejarah yang merekam jejak-jejak tapol/napol di pulau Buru, tapi sudah tidak terurusi. Kamp-kamp pembuangan yang kini sudah menjadi desa pemukiman seperti desa-desa lainnya sebanarnya merupakan aset sejarah yang sangat berharga. Tapi sayang hal tersebut belum sepenuhnya disadari oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Rekaman sejarah kekejaman rezim yang tedapat di Pulau Buru dapat dijadikan pelajaran bagi anak bangsa untuk lebih dekat dengan sejarah bangsanya. Ada beberapa tugu tempat pembantaian tapol/napol, awalau tidak dapat kami saksikan langsung, karena waktu sudah mulai petang. Satu-satunya yang dapat kami saksikan adalah tempat pertemuan tapol/napol di Savanajaya yang seluruhnya terbuat dari kayu. Tempat yang berdesain panggung tersebut kurang lebih tingginya 5-10 meter dengan lebar 10 meter dan panjang sekitar 50 meter. Tempat tersebut seolah menyuguhkan rasa dan nuansa kekerasan, kengerian, dan pederitaan yang dialami para tapol/napol. Terasa begitu dekat.

Merinding bulu kuduk rasanya membayangkan kekerasan yang mereka alami akibat kekejaman sebuah rezim Orba. Sejenak, kami semua merunduk mendoakan mereka yang dibuang tidak berdosa, tanpa pengadilan untuk memperoleh keadilan, disiksa, dicerca, hingga dijauhi keluarga dan masyarakat. Saat bermunajat, bahkan sebagian dari kami sampai ada yang meneteskan air mata. Pukul 6 sore. Berdiskusi dengan pak Daryun sangat mengasyikkan, sehingga kami lupa waktu. Kami pun berpamitan dan beliau menasihati kaum muda agar terus semangat menatap perubahan untuk bangsa ini yang sudah bobrok ini. Dia berharap dapat dikirimi buku-buku progressif oleh kami dari Jawa. “Insya Allah, akan kami kirimkan, pak !,” respons salah satu kawan kami asal Sumatera, Swanvri.

Kami pun kembali ke Grand Sarah ketika beranjak petang kendati masih menyimpan seribu penasaran untuk menyusuri unit-unit yang lain. Waktu yang terbatas, memaksa hati tidak puas. Tapi, ada kegiatan dan pekerjaan utama yang harus kami selesaikan di Namlea bersama Dino dan kawan-kawan sebelum kami bertolak ke Jawa. Bagi saya, pulau Buru memberi kesan yang tidak akan pernah terlupakan, karena disana menyimpan ribuan sejarah yang tidak akan boleh dilupakan dan terlupakan oleh seluruh generasi bangsa ini. Sebuah saksi kekerasan dan kekejaman rezim yang tidak boleh terulang oleh pewaris pemimpin bangsa mendatang. Pualu Buru aku akan merindukanmu.***

About these ads

~ oleh hilman pada Maret 12, 2008.

169 Tanggapan to “PULAU BURU YANG TAK BOLEH DILUPAKAN”

  1. pulau buru, saya pernah disana selama 2 tahun, sebagai dokter bedah, awalnya kesannya sepi, ternyata cukup menjanjikan….pendapatan lumayan asal mau kerja keras… , sayang daerah rawan gempa, jadi saya berpikir untuk pindah

  2. saya lahir diburu dan penasaran ama bpk pramodya ana toer harap dikirim alamat atau no hp anda!

  3. Wah…cerita pulau Buru ini penuh sarat sejarah ya??tapi sepertinya kurang di ekspos, saya sendiri adalah penduduk Sumatera Utara, mengetahui pulau buru setelah melihat tayangan di TV. Terimakasih atas cerita yg manarik ini. Salam

  4. wah..ulasan yang menarik salam kenal ya mas Hilman:)
    kebetulan saya lahir dan besar di buru karena ayah saya bertugas di Buru tepatnya di desa Savanajaya
    (bpk Daryun yang di foto itupun saya kenal)
    tapi semasa ayah saya bertugas membina para tapol sekitar tahun 80-90an situasi dan kondisinya sudah sangat berbeda dengan masa2 awal para tapol dibuang ke P Buru
    di tahun 80-90an itu antara petugas/TNI dengan masyarakat Savanajaya tidak ada jarak bahkan kami semua seperti saudara karena sama asalnya dari Jawa.
    Tahun 92 kami sekeluarga pindah kembali ke jawa sedih sekali rasanya…..
    syukurlah sekarang keadaan para Tapol dan keluarganya sudah tdk terdiskrimasi sejak lengsernya presiden Suharto

  5. entah kenapa saya jadi ingin menetap di pulau buru.bahkan sebelum membaca tulisan mas hilman.pulau buru memang banyak sejarahnya dan di dalam bayangan saya, pulau tersebut pastilah terpencil dan sangat tenang untuk ditinggali. setelah membaca tulisan mas hilman, saya jadi makin tertarik dan tidak sabar untuk menikmati segala hal yang ada di sana!!^^

  6. pa saya minta izin untuk publikasi cerita ini di blog aku,
    boleh g?
    ini blogku
    soale ceritanya menarik bangt……….!
    palagi saya juga ORANG buru yang harus banyak kenl dengan sejarah pulau buru…

  7. saya sangat terharu dengan tulisan anda tentang pulau buru,,,,saya lahir diburu dari kecil sampai besar dan sekrang sy mencari ilmu di jakata harapa saya juga seperti anda pak,,, buru jangan lah diabaikan, banyak peninggalan2 sejarah disana mereka yang menjadi korban pembuangan adalah saudara kita semua mereka bukan lah KOMUNIS malah meraka orang2 yang cerdas dalam berpikir… orde baru adalah FASIS yang dengan otoriternya dan menyengsarakan mereka yang difitnah dan di buang disana, mereka adalah penerus bangsa yang sekaligus pewaris sah republik ini seperti pendahulu2 kita yakni soekarno,hatta dan sjahrir. bapak pram kalu boleh butlah tulisan yang menyentuh rezim yang berkuasa sampai dengan hari ini bahwa lihatlah masyarakat di pulau buru karena mereka bukan tapol/ napol pada zaman orba.
    saya pernah membaca buku yang berjudul DARI SALEMBA KE PULAU BURU.. sangat menarik tulisa dlm buku tersebut perjalanan seorang mahasiswa kedokteran UI ke pulau buru beliau juga adalah korban kekejaman orba…..bung, kawan, sahabat. ayo kita bangun pulau buru dan pulau2 lainnya yang bersejarah jagan sampai kita lupakan………….. semoga pak pram dan pengikutnya terus barkarya dengan tulisan2 sastra mereka, seperti STA (sutan takdir alissyahbana)……budayan dan sastrawan yang hebat dengan gagasa2 SOSIALISnya……. AMIN viva la hasta sosialista

    the next sosialis generation

    • halo mas sudirman, saya sependapat dengan anda. saya sejak dulu tertarik dengan pulau buru dan ingin sekali ke sana. saya juga ingin sekali mendengar cerita atau pengalaman orang yang tinggal dan pernah tinggal di pulau buru. bisakah saya minta kontak anda?

  8. apalagi ditamba dengan pantai yg indah.menarik and pasir yg putih..

  9. Hi Mas Hilman… Membaca tulisan Anda, saya menitikan air mata. Pulau Buru, tanah kelahiran saya. Tepatnya di Mako saya lahir 29 tahun yang lalu, dan saya dibesarkan di Savanajaya. Thn 1994 saya harus pergi untuk melanjutkan pendidikan saya ke Yoyakarta. Niatan hati hendak kembali setelah selesai kuliah, tapi kerusuhan akhir tahun 1999 mematahkan niat itu. Rumah saya di jalan sedap malam B-7, dibakar dan orang tua saya mengungsi. Kini mereka menetap di Yogyakarta. Meski demikian, saya cinta Buru dan saya sangat rindu untuk kembali. Saya cinta dan rindu karena airnya mengalir dalam darah saya dan tanahnya turut membangun tubuh saya. Saya rindu “sudara-sudara” di sana. Lapangan, sawah, gedung kesenian ( tempat saya biasa menari wayang orang ), bukit2 di barat desa, bendungan, pantai sanleko…

    • halo mbak maria, salam kenal. saya yuli tinggal di Yogyakarta. saya juga menyukai dan merasa teharu membaca tulisan mas agus hilman. saya ingin sekali ke pulau buru yang hanya saya ketahui dari buku memoar para tapol. saya sangat akrab dengan desa savanajaya yang selalu saya baca dari buku. saya sangat berempati pada cerita anda di atas. saya ingin tahu cerita tentang pulau buru dari orang yang tinggal atau pernah tinggal disana. bisakah saya minta kontak anda?

      • Nanda bisa hubungi saya :Gerry Santoso.S,di 085712811803.sSya ex penghuni asli di Savanajaya ,yang dulunya neraka tapi sekarang sudah jadi desa yang makmur ditanah Maluku,karena kami yang membangun tempat itu dari 10 barak kamp buangan yang dikelilingi kawat berduri dan peleton tentara bersenjata dan sangkur masih terpendam ditanah bumi SAVANAJAY dan aliran sungainya

    • dik maria, kalo adik dulu tinggal di B-7, jika boleh tau adik putrinya bapak siapa ya, dan sekarang di yogyakarta tinggal dimana,.. thanks ..U’ut

  10. memang keindahan P. buru tidak dapat dilupakan begitu saja…
    saya pun pernah menikmati keindahan pantai jiku merasa pada tahun 2006 s.d 2007. entah sampai kapan saya akan kesana lagi dan menikmati masakan colo-colo…..

  11. saya mohon bantuan untuk mendapatkan kontak pembuat minyak kayu putih,karena saya membutuhkan bahan tersebut dengan jumlah banyak dan konstan serta berapa harga perliter atau kilonya,mhn infonya segera,tq

  12. saya minta alamat email anda. Akan saya kirimkan kontaknya. Tq

  13. Hii,, salam kenal.. Tulisan anda bagus sekali.. Saya harap anda bisa membuatnya dalam suatu buku,, karena semua orang denganbegitu bisa mengetahui pulau Buru yang sebenarnya.. Meskipun saya bukan asli warga pulau Buru, tapi saya adalah seorang anak lulusan dari Namlea (P.BURU).. dan saya dapat berhasil karena sekolah disana.. Dan saya sangat bangga menjadi anak BUPOLO..

  14. pulau buru itu sangat indah dan juga sangat panas

  15. asslkm.wb.wr
    kepada siapapun kabar ini sampai kamijuga berharap agar stigma PKI hilang dari masyarakat indonesia terutama masyarakat Pulau Buru, saya juga dapat memahami akan sejarah anak manusia yang anggap sangat tragis dalam sejarah yang hampir terlupakan oleh manusia terutama hukum telah mati dan tidak berdenyut lagi, sehingga yang tertuduh menangis dengan sejuta harapan bahwa hukum harus tetap ditegakkan.namun sayang…seribu ceritan dan deras tangis dan air mata tidak menembus dinding-dinding kekuasaan,namun malah tuduhan yang semakin meyakinkan bahwa segala tuntuntandi angap pergerakan perlawan generasi penerus PKI,sungguh sangat eronis sekali,karena masih ada sebagian pemerintah kita yang masih mengangap suatu ancaman.
    kalau selama saya perhatikan sejarah awal masyarakat tapol menurut saya adalah pahlawan kami karena sebelum orangtua kami datang di pulau buru yang tingal dan yang menciptakan semua perubahan dan pembangunan adalah tapollah yang berjasa di Pulau seribu penderitaan itu, dan ini sangat saya rasakankenapa kita tidak bersyukur karena ketika orangtua kita sampai di Buru semua sudah dalam keadaan yang baik,jalanan dan prasana umum lainnya sudah ada dan masyarakat tranmigasi tingal menikmati.Pulau Buru yang terbayangkan seram sekarang siapa saja yang datang saat ini tidak percaya karena yang terlintas dalam cerita sejarah sangat berbeda keadaannya saat ini, saat ini yang adalah layaknya taman kehidupan yang jarang manusia lain mearasakannya betapa damainnya pulau buru saat ini, siapa aja yang datang ketika sandar di pelabuan namlea pasti yang terdetik dalam bayangan dan angan-angannya lenyap seakan ia hidup dalam dunia dan alam kehidupan yang hampir tidak ia jumpai sebelumnhya, pantai yang indah dan didukung dengan pemandangan pohon-pohon kelapa yang melambai serta penduduknya yang cukup ramah, sehingga membuat siapa saja yang datang pasti memiliki sejuta angan dan andai-andai. dan siapa saja nyang datang didaerah tapol di savanajaya pasti seseorang tersebut tidak menyangka bahwa penderitaan yang ia baca di sebagaian sejarah penderitaan ternyata ada keberhasilan yang dapat dibanggakan oleh generasi bangsa, gunung yang hijjau lahan pertanian yang membentang membuat mata siapa saja yang memandang pasti musnah bayangan dan penderitaan yang terlintas karena sejarah telah berubah karena saat ini yang ada adalah kesuksesan dan kedamain bukan penderitaan yang mana tergambar dalam sejarah.ketika kaki sudah menginjak tanah unit 16 pujian dan rasa syukur pada Tuhan karena pulau buru yang ia kenal hanya dari buku dan cerita ternyata berbeda adanya,karena saat ini yang ada buka penderitaan namun yang ada saat ini adalah hamparan kehidupan hijaunya dan landungnya padi sebagai salah satu lumbung pangan yang dapat dibanggakan oleh masyarakat Pulau Buru karena hasil pertaniannyalah Pulau Buru bisa dikenal dan dikenang dalam hati masyarakat dan pemerinhtahnya.Berbagai hasil kehasan masyarakat Buru dapat menyilaukan beberapa infestor kalau pulau buru sangat pontensial baik laut dan pertaniannya bisa menjadi contoh masyarakat translainnya.

  16. Buru…………

  17. Ass,
    terima kasih atas tulisannya,,,
    saya terharu sekali
    saya ( Iman Firmansyah Efendi ) lahir di savanajaya pada tahun 1985 dan bersekolah di sana sampai tingkat SLTA….saat ini saya berdomisili di bandung,,kakek, nenek dan beberapa keluarga saya sampai saat ini masih berdomisili di Savanajaya..Salam Kenal Buat Semuanya.

    • halo…salam kenal mas Iman Firmansyah…melalui blog ini saya mendapatkan beberapa informasi tentang pulau Buru. kebetulan saya ingin sekali pergi ke Pulau Buru, untuk jalan-jalan karena saya penasaran sekali dengan pulau yang punya sejarah ini. tetapi, saya juga berpikir ingin sekali mendapatkan informasi langsung dari orang-orang yang tinggal atau pernah tinggal di sana. kalo boleh saya tahu email anda?

      • @ Iman dan Yuli : terima kasih atas semua komentar kalian, apalagi dengan catatan-catatan saya di atas dapat memberikan informasi tentang pulau Buru yang tidak boleh dilupakan, khususnya kehadiran teman-teman yang lahir dan pernah bersentuhan langsung dengan Pulau Buru. Tks

      • email saya; rayife@yahoo.com

  18. Terima kasih.. Tulisan mas sudah bikin saya berkaca2.. Saya chandra asal bogor, saat ini saya kerja di ambon.. Sebuah kesempatan kemarin datang mengajak saya ke pulau buru.. Tapi bukan untuk ke tempat PAT, ada kegiatan yg lain d’desa lain dpulau buru.. Seperti hal’nya ibu bapakku yg lahir dan besar d’gunung kidul yg dsitu aku dpt spirit tentang sesuatu.. Dan di pulau buru kemarin aku smpat berbicara byk hal dgn kenalan yg jd transmigran..tu menjadi spirit lain bagi mereka yg tinggal dperantauan.. Yg berkesan, sekarang aku punya kawan, saudara d’ namlea..

    • Terima kasih mas Chandra sudah membaca tulisan ini. Ini berangkat dari kekaguman saya dengan Pulau Buru yang menyimpan sejuta sejarah bangsa ini.

  19. Kusumachandra86@yahoo.com

    Kusumachandra.multiply.com

  20. SAYA BERASAL DARI BURU ,KULIAH DI JAKARTA .
    SAYA DI SINI MENCARI RELASI TEMAN ,TLONG HUBUNGIN SAYA…..

  21. wah terimakasih informasi tentang pulau buru karena tetang informasi ini aku menjadi semakin tahu seluk beluk pulau buru dan dipulau itu aku dipidahkan tugas disanna sebagai staf pengajar disana, terima kasih artikelnya…….

  22. Menarik ceritanya. Pulau buru bukan hanya tempat tapol yang menarik dan membuat berdiri bulu kuduk kondisi masyarakatnya menarik. Dari unit (lokasi transmigrasi) lahan sawah tertata dengan baik dengan saluran irigasi yang cukup baik suasanandan nuansanya sama dengan di Jawa. Ada roh kehidupan pada lahannya. Sangat berbeda dengan buru utara, masyarakat setempat menyebutnya tanah belakang. Lahan dan kebun tidak mencerminkan adanya sentuhan tangan manusia didalammna walaupun pantai dan lautnya indah berbeda begitupula dengan air terjunnya Wayura

  23. Sebagai salah seorang anak dari eks tapol yang dibuang ke P. Buru saya bangga dan terharu,rindingkan bulu kuduk menyimak tulisan dan komentar tentang P. Buru khususnya Desaku tercinta tanah dimana aku lahir dan dibesarkan SAVANAJAYA. Gemetar jemari ini saat jentikan untaian huruf di atas keyboard tua ku. Pa kabarmu adik2 ku M. Isliniawati (nduk Lyn) dan Iman ? buat saudari yuli andari dan rekan lainnya terima kasih atas apresiasinya…..Saat ini saya masih tinggal di Savanajaya, pabila membutuhkan info tentang Savanajaya bisa hubungi saya via email : danangsahidi@yahoo.com

    • Halo Mas Danang….sy lupa apakah sy kenal sama Mas Danang? Saya pulang ke Jogja thn 1979, tp kakak laki2 sy tetap tinggal dan menikah di sana.Tapi sayang, kakak dan keluarganya hrs pulang ke Jogja krn rumahnya dibakar wkt terjadi kerusuhan beberapa thn lalu. Mungkin Mas Danang kenal, kakak sy namanya Mas Yerry Suparman.

      • Saya nggak ingat sampean mbak, tapi kalo mas Parman Yerry seperti kakak saya sendiri, sampean boleh tanya.

      • waaaawwww, mbak paulin to ak adiknya mas alex relawan. alm, kita pernah ketemu kan, jangan putuskan tali silaturahmi ini yg sudahmulai tergalang dengan baik lg

      • ini mas danang di savanajaya bukan?,saya fence anaknya pak solisa, mas sudaraan dgn yoto atau bukan,kita sama2 spm di savanajaya thn 86

    • ini mas danang,anaknya pak arif bukan?

      • halo saya masril koto>rasanya saya sangat kenal pak anton solisa yang di weapo kah??.kebetulan saya lagi bikin kegiatan di pulau buru pemberdayaan masrakat adat pulau buru>saya dari sumbar

      • Sya, putra tunggal dari alm. Bpk. Arief Sugiyanto, B-14 Savanajaya. Saat ini msih brdomisili d alamat trsebut.

    • saya sehat2 saja mas,,terimakasih banyak,,sekarang saya tinggal di Bandung,,semoga kita bisa bertemu kembali seperti dulu,,tolong sampaikan salam saya buat semua sahabat2 dan keluarga saya..masih ingat saya kan mas? rumah paling ujung A1 No.1 cucu dari Bp. Solihin/Bp. Ihin/Aki Ihin, keponakan dari Mas Ucu, Hendra, Eka……silaturahmi kita jangan sampai putus

  24. MAS YANG UP TODATE

  25. pulau buru adalah tanah kelahiran saya. dan saya menjadi salah satu orang yang beruntung karena telah di lahirkan di pulau yang indah itu. meski sekarang saya kuliah di jogyakarta tapi bayang-bayang pulau buru tidak bisa lepas dari ingatan saya.dan sudah pasti, bahkan sampai hari kiamat tiba saya tidak akan melupakan pulau buru. suatu hari saya berharap bisa kembali ke pulau buru dan membangun tanah kelahiran saya tercinta. terima kasih, buat semua yang juga mencintai tanah kelahiran saya.

  26. Ya judengar sejak masih esde 1977 – 1983, kala itu banyak guru2 yang kena gestok, ada yang pulang dari Pulau Buru 1979, ada yang bekas rumahnya dibakar setelah pulang dari Pulau Buru kembali ke rumah yang sudah rata kosong bekas dibakar oleh pemuda anshor ngakunya pemuda anshor yang dibelakangnya ada baret hijau……… kala itu ada saya hanya mendengarkan cerita tutur dari nenekku ..sungguh pedih …. perih korban gestok itu…. baik sebelum dibuang ke Pulau Buru atau sesudah di Oulau Buru.

  27. saya mencari saudara saya, apakah mash hidup or mati. Beliau berangkt ke pulau buru pd tahun 1966

  28. Laknat Tuhan bersama Suharto & Antek2nya d dalam kubur atas korban2 kekejaman di pulau buru yg tdk berdosa…

  29. Hai…Saya termasuk salah satu anak tapol gol.B yg dibuang ke P.Buru. Waktu itu sy blm mengerti arti semua ini krn sy msh kecil ketika sy, ibu, dan kedua kakak saya menyusul bapak ke P.Buru.Pengalaman manis dan pahit km alami di tanah pembuangan itu, bahkan trauma2 masa lalu itu msh membekas hingga saat ini.6 tahun km tinggal di sana, dan thn 1979 km pulang ke tanah Jawa setelah bapak dinyatakan bebas.Saya berharap pemerintah dan masyarakat penikmat Pulau Buru tidak melupakan jasa para tapol yg sdh membuka hutan hingga menjadi seperti ini. Mungkin anda tak pernah terbayang betapa besar penderitaan para tapol waktu itu, disiksa, kerja keras tanpa imbalan dan penghargaan apapun.Semoga Tuhan mengampuni mereka yg sdh bertindak biadap terhadap bapakku dan teman2nya.

    • Salam kenal mas/mbak ( anak tapol/napol) dr p.buru.
      Sy jg anak tapol/napol gol B. Jemari ini basah air mata sat menulis ini. Betapa kt keluarga tapol/napol gol B menderita oleh rezim orba. Satu pemghibur saya Yaitu Tuhan Khalik Langit dan Bumi. Sy di Surabaya. salam kenal dan email sy yaaa

      • haloo mas brian, ternyata persaudaraan yg digalang orang tua kita terus bisa terjalin, semoga kita tetap trus membuka sejarah yg tdk banyak diketahui rakyat ini

    • mba paulina p, kalo boleh tau sekarang anda dimana….saya kenal dengn kakak anda mas parman yerry. dan saya pernah ketemu dengan beliau,beliau tinggal di wilayah godean jogjakarta. dan kalo gak salah mungkin kita pernah satu kelas waktu di SD savanajaya.
      salam dari u’ut

      • Halo Uut….. tentu sj aku ingat anda. Anda kan ketua kelasku dulu? Aku skrng di Jakarta, jadi guru. Syukur kt bisa ketemu di sini, bernostalgia mengenang masa kecil di tanah pembuangan. Namun bagi kita Savanajaya adalah tempat terindah di mana kt bisa bermain bebas di alam terbuka, akarab dengan alam yg msh murni, dan kita bisa tumbuh dan kuat hinggga sekarang. Salam buat teman2 kl anda ketemu ya…. :)

  30. wah..tlisanx mberikn bxk gmbaran ttg plau buru..bsok sy rncana k pulau buru bwt survey ptensi prtanian khususx tanamn hortikultura..pulau buru mrupakn areal krja sy..trmasuk ambon dn seram..
    Thanks infox lwt tlisn diats..

  31. saya tak mengerti politik,simpatik pada ex tapol p buru,jika negeri ini di pimpin partai kominis apak kah negara kita seperti korut atau kambuchia atau seperti kuba

  32. Pulau Buru = Gulag Island = Alcatraz = Guantanamo Bay = Robben Island = Boeven Digoel ===Tempat sangat Kejam Bagi Tapol/Napol

  33. pulau buru..e akang talalu manis par beta karna disana tampa beta putus pusa jadi beta zg bisa lupa akang smpe mati, i love buru islan, yako geba buru……….

  34. Mari kita membangun buru melanjutkan perjuangan mereka yang dulu menderita

  35. @ All : terima kasih atas segala komentar, saran, masukan, dan kesan yang ditulis diblog saya ini untuk semua yang tidak bisa saya jawab satu-persatu.

  36. saya sebagai cucu tapol/napol sangat berterimakasih dan bangga, karena masih ada yang mau memprhatikan kake’ dan nenek saya. saya berasal dari savanajaya , saya akan bejanji setelah saya menyelesaikan studi saya saya akan membengun esa savanajaya tercinta.

  37. pulau buru memang dulunya negeri pengasingan, tetapi pulau buru bukanlah negeri terasing di nusantara ini. saya sangat bersyukur dan bangga, karna saya lahir dan besar di pulau buru, tepatnya di desa savanajaya tercinta. sakarang saya lagi lanjut study di yogyakarta. rasanya berat meninggalkan pulau buru. apalaghi kampung halaman ku tercinta SAVANAJAYA. setlah saya membaca tulisan mas ini, bulu kuduk ku brdiri, mataku terasa berat membendung air mata. ku selalu teringat akan kakek ku yg hingga kini masih berada di savana. ia selalu bercerita pengalaman pahitnya dulu tentang kekrasan yg selalu menghampirinya setiap detik….namun kini upaya keras mereka telah terwujud. …. terima kasih tuhan…

    mas hilman boleh minta nomer kontak ga’… ? aku mau bertanya dan bercerita banyak ni tentang pulau buru….

  38. pulau buru yg ku cintai…
    tmpat q dilahirkan dan di besarkan.trimakasih mas agus Hilman atas tulisannya.ini mmbuat menambah pengetahuan saya tntang pulauku yang blm smuanya q knal.wlapun q d lahirkan dan d besarkan d sana.ini jg membuat saya smakin penasaran lg ingin mengetahui lebih banyak lg tntang pulauku.jika Allah mengijinkan dan mmberi umur panjang saya pun ingin mendengar lngsung cerita2 tntang pulauku dr para napol/tapol.

  39. ambon kecute bukan manise, pulau buru kq ga aa orang berburu,hwahaha

  40. pulau buru= isinya orang buru-buru ; masohai= isinya orang say “Hay santai!!!” hwaha……..

  41. kwamprettt

  42. Yang komentar asal2an….. Masih punya hati gak ya??????

  43. saya lagi di ambon tapi pengen juga ke pulau buru

  44. kalo mw tau tntng pulau buru datnr ke meuleuchaleksi@yahoo.co.id

  45. jembatan Australia, sumur Australia… bukti bahwa Namlea (P.Buru) adalah satu tempat yang menjadi saksi PD II. Kalau ada yang butuh foto dan lokasi persisnya-hubungi kami. Luar biasa situs-situs tersebut.sayangnya hanya dijadikan lokasi esek-esek oleh para hidung belang. sebelum terlambat-ayo selamatkan pulau buru

  46. terima kasih mas hilman sy jd ingin ke P.Buru nih jadinya

  47. pulau buru itu indah kok…aku senang punya rumah disana walaupun bukan asli orang sana..tapi aku bersyukur bisa jadi warga sana..hehe jadi pengen pulang kampung deh…

  48. bt kangen pulang ke buru,,,,,
    alnya, bt kuliah di bogor,,,

  49. saya adalah seorang yang mengagumi pulauburu..saya juga tinggal dipulau tersebut..awlnya,saya merasa kurang cocok tinggal di sana.. tapi, akhirnya saya jatuh cinta juga sama pulau yang satu ini..

  50. seng ada yang bisa lawang indahnya beta pung kampung marloso deng gunnung batu ayam deng batu-batu yang putih indah dan juga talaga gong yang begitu menawan…indahnya beta pung kampong marloso…

  51. marloso panggel beta pulang…..marloso…

  52. Terima kasih anda telah membantu untuk mengurangi pendistorsian sejarah bangsa ini. Membaca tulisan ini saya kembali mengenang di saat pembuangan itu. Ketika itu saya mendiami unit II (wanahrejo), dan menghabiskan 9 tahun pembuangan disana, terhitung dari tahun 1969-1978). Kami hanya ingin bagaimana bangsa ini terbebas dari penindasan & penghisapan kapitalisme. Dan bagi saya perjuangan klas itu tidak akan pernah padam!!! rapatkan barisan kawan…

  53. Terima kasih bung Agus Hilman telah membantu teman2 eks tapol buru untuk mendapatkan tempat sejarah yg layak tanpa pendistorsian di bangsa ini. Saya sering di ceritakan oleh ayah sya bagaimana kehidupan pembuangannya di pulau buru waktu itu. Gunung batabual,sungai way apu,desa2 yg ada di pulau buru serta semangat untuk bertahan hidup dsna yg selalu di ceritakan beliau kepada saya. Bagi saya semua perjuangan itu bukan hanya sekedar memperjuangkan hidup,tetapi lebih dari itu yaitu memperjuangkan kehidupan bangsa yg lebih baik dari sistem penindasan & penghisapan yg mengikat kita. Oleh karena itu,bukan dendam pribadi kpd ORBA yg saya kumandangkan tapi lebih dari dendam klas pekerja yg saya perjuangkan!!!

  54. wah,bagus sekali postingannya bang..
    saya mulai tertarik dengan sejarah di pulau buru semenjak membaca buku “memoar pulau buru” oleh hersri setawan,semasa SMA.saya jadi lebih merasa dekat dengan pulau buru ,walau hanya membacanya.apalagi setelah membaca blog anda.saya jadi ingin melihat langsung,apa dan bagaimana masyarakat disana sewaktu dan sesudah orde baru.Terima kasih sebelumnya bang hilman.saya asli medan,tp saya sekarang berada di jogja.sebagai mahasiswa.

  55. Anak transmigrasi jaya mks para tapol kmi bs menikmati hsl cucuran air mata mu mga than membalas ya

  56. telah aku baca banyak buku cerita tentang buru,tempat bapakku 9 tahun hidup , aku ingin tidur ditempat bapakku tidur di buru waktu itu , dan 9 tahun aku merindukan bapakku menyuruhku mandi dan menggadengku untuk ke lapangan nonton bola , tapi itu semua telah terampas , kini aku hanya bisa mengenangmu.

  57. Buru yang Indah dengan dengan laut yang luas dan kayu putih yang bertebaran dimana, menunjukan Bupolo memang unik dan menjadi banggaan saya, walau masih di perantawan

  58. hallo semua, ya setelah semua cerita di atas banyak mengusik prihatin dari saudara2 ku, om daryun begitu saya biasa memanggilnya, tepat samping rumahku, mereka yg terbuang, terus berusaha mempertahankan hidup tanpa mengurangi semangat revolusinya hingga kini, satu persatu tanpasengaja semangat mereka tersamarkan oleh serakahnya borjuis2 kecil yg mematikan, tapol dan napol buru adalah bagian jiwa saya karna dalam darahku ini mengalir semangatnya. kami terus berkomunikasi tuk sadarkan bangsa ini bahwa kami ini korban, sekali lagi korban, mari kita bersama kembalikan kebenaran sejarah, wariskan kebenaran, bukan kebohongan, karena generasi kami inilah yg bisa menyuarakan apa yang mereka wariskan. salam savana, i love

  59. pulau buruq yang tercinta, disanalh beta di lahirkan dan dibesarkan I love Buru Island

  60. terimaksih pa pram

  61. saya sangat berterimah kasih atas argumen yg menarik itu. kebetulan saya memang sedang mencari pulau tempat dibuangnya orang-orang PKI. terima kasih banget………..

  62. seandainya kisah nyata ini diangkat ke layar lebar……….dengan tidak mengurangi atau melebihkan isi dari komposisi cerita mereka yang telah menginjakkan sejarah di pulau buru……

    • mas kresna yg genius rencana pernah ada dan pernah di bahas dalam suatu pertemuan tokoh tapol dan salah seorang tokoh juga dalam perfileman, namun mungkin terhalang dana yg di perkirakan cukup mahal, bila ada sponsor yg berani bisa dikomunikaskan kemudian, thx

  63. bagi semua anak tapol/napol pulau buru, kami telah menyediakan fasilitas informasi dan komunikasi secara intens dan up todate, silahkan bergabung ke face book kami dengan alamat Unit IV Savana atau SAVANA, kami siap memberikan informasi terbaru, dan ini tidak ermuatan politik, salam saya”ALBERTH AD, asli savana jaya

  64. Perlu langkah untuk merevitalisasi pulau buru..melestraikan aset sejarah bukanlah pekerjaan yang haram meskipun di pulau ini wajah kekkejaman orde baru terkuakkan, banyak tulisan yang bagus dihasilkan di pulau ini…seperti karya pramoedya ananta toer, hersi setiawan dan lain-lain…dan bukti bahwa untuk menuliskan karya tulis juga dapat dilakukan dalam situsi dan tekanan apapun.

  65. saya mohon informasih soal bapak angkat saya di Savana jaya bapak Davis Icwan… beliau adalah salah satu dokter Accup Cuntur … mohon informasih
    alamat rumah
    Savana Jaya lorong 3 …

  66. I Love U fuLL buruQuu. ,. ,.
    tempat dimana QU dilahirkan & dibesarkan., .,.

  67. subhanallah,,,,
    ternyata sejarahnya kyk gini ya, q lahir dipulau buru, kelahiran 1991, dimana tahun itu sama skali sudah tdk ada kekerasan hingga skarang. walau tdk punya kluarga yg brkaitan dngn tapol/napol tp q bangga dengan mereka, trimaksih buat para pejuang/pahlawan yg mmbuat buru mnjadi tempat brpenghuni.
    selama ini q cuek atau mungkin cz g tau aja bgmana sejarahnya, setelah tau sejarahnya kyk gini q makin bangga mnjadi seorang anak yg terlahir di buru.
    semoga buru bisa mnjadi daerah yg makIn hari makin baik.amin.
    “RETE MENA BARA SEHE”
    ^_^

  68. Pulau Buru Nan Indah tempat Dato-dato, Negeri Bupolo pembawa HARAPAN, Aku Hijrah dari Bandung thn 2001 bersama Istri dan Anak-anak, berawal dari tukang batu, Alhamdulillah sekarang punya rumah, mobil dan karyawan banyak. Ayo Ke BURU, potensi Kayu Putih terbaik di Dunia, Kakao, Cengkeh, Jambu mente, Ikan Tuna, kopra dan banyak lagi potensi SDA lainnya. Pulau yang sangat menjanjikan masa depan, Sebagai anak Negeri Aku tantang Para Investor yang mau menginves di tanah BupoloKU Sayang.

  69. Pulau Buru Nan Indah tempat Dato-dato, Negeri Bupolo pembawa HARAPAN, Aku Hijrah dari Bandung thn 2001 bersama Istri dan Anak-anak, berawal dari tukang batu, Alhamdulillah sekarang punya rumah, mobil dan karyawan banyak. Ayo Ke BURU, potensi Kayu Putih terbaik di Dunia, Kakao, Cengkeh, Jambu mente, Ikan Tuna, kopra dan banyak lagi potensi SDA lainnya. Pulau yang sangat menjanjikan masa depan, Sebagai anak Negeri Aku tantang Para Investor yang mau menginves di tanah BupoloKU Sayang.

  70. terima kasih… moga dapat menjadi pelita di masa mendatang …

  71. terima kasih… moga dapat menjadi pelita di masa mendatang …

  72. saya sangat terharu ketika membaca sejarah pulau buru……

  73. saya pun prnah berada di barak2 tapol/napol,pertama kali belajar baca & tulis pun dari mereka,mereka orang baik menurut saya..,saya sebagai orang buru asli mengucapkan terima kasih.

  74. Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon maaf lahir batin bagi yang merayakan,Saya nama Fence Solisa,sejak dari Ambon sekitar tahun 80 an bapak saya sempat bertugas di Desa Savanajaya(unit 4),waktu itu saya duduk di bangku kelas 2 SD Inpres Desa Savanajaya,saya sekolah di sana hingga kelas III SMP Savanajaya,saya banyak mengenal semua Orang2 di Desa Savanajaya,juga pak daryun saya mengenalnya Salam,Rumah saya di tikungan masuk desa,tepatnya samping mushola sebelah kiri masuk Desa,saya paling bontot dari limah bersaudara,banyak suka duka disana yang saya rasakan,tidak mungkin saya melupakan desa Savanajaya begitu subur dan hijau,saya juga sudah sampai di semua unit,ingat kalau angon sapi dengan teman2 mian bola di unit2 lain,Waaaaaaahhhhhh,seruh buangettttttttttt,teman saya danang katanya di Bandung tapi sampai saat ini saya belum bertemu dengannya,saya sekarang ada di Jakarta,tinggal diJakarta sudah sekitar 14 tahun silam,Salam Saya untuk Semua Warga di Savanajaya Guru2 SMP SD Kades yang dulu pak kasbi anak tomy,een hery,juga teman2 Tetap Semangat,saya sudah berkeluarga punya 2 Anak yang cantik2,kalau ada teman2 yang punya fb tolong Add saya,Terimakasih untuk Bapak Agus yang sudah menulis tetang Desa Savanajayaku juga.Email Saya :buruselatan@yahoo.com.

  75. Saya lahir di namlea tamat dari sana saya lgs ke jogya ayah saya Barnabas Soekardi anggota CPM di pulau itu..kapan kapan saya pasti kesana.

  76. Saya pernah bekerja di PT. Waenibe Wood Industri di Desa Waenibe pada tahun 1991 – 1995 kurang lebih selama 4 tahun 6 bulan, saya sering bersepeda ke Waepure, Wamlana, Airbuaya dan Waeputih. Pulau Buru memang menyimpan potensi ekonomi yang cukup baik karena banyak kekayaan alam yang belum di olah, diantaranya kawasan wisata di danau Rana yang sangat indah dan belum dibudidayakan. Belum lagi pantainya yang indah semuanya sangat menakjubkan. Subhanaulah indah sekali………..

    • Ma’af, bapak Mohamad Yazid juga pernah kerja di PT.WWI ya, karena dulu saya juga pernah kerja di sana juga sampai akhir th 2007. Pulau Buru adalah pulau yang indah dengan pemandangan alam dan pantainya..

  77. Saya adalah putri dari seorang ayah yang pernah menjadi korban di buang ke Pulau buru..
    saya ingin sekali bisa berkunjung kesana.. tapi saya ga tahu gimana saya bisa sampai kesana tidak ada yang kukenal disana.. saya ingin melihat tempat yang pernah menjadi sejarah kelam itu… adakah yang bisa membantu saya untuk menunjukan tempat itu???? trimakasih

  78. that’s real history….aku salut dengan tulisan mas danang, …semoga Allah SWT memberikan ampunan kepada mereka yang sudah merampas kebahagiaan ang seharusnya mereka miliki. apapun yang telah terjadi biarlah semua terjadi, mungkin semua memang sudah kehendak-Nya. Janganlah ada dendam kepada mereka yang telah berlaku tidak pada tempatnya. yang terpenting sekarang adalah kita tunjukkan bahwa kita adalah insan yang beriman dan menjunjung tinggi rasa kasih sayang terhadap sesama tanpa perbedaan apapun, dan kita sebgai bangsa yang cinta akan kedamaian di bumi tercinta indonesia. salam buat sahabat semua

  79. skarang apa yg harus kita lakukan,sebagai bntuk kpedulian akan sesama…

  80. sungguh luar biasa sekali apa yang saya daptkan dari tulisan anda..
    sungguh sangat menginspirasi serta mencoba membangun alur pikir saya, agar dapt kembali ke BURU dan membangun dan mempersatukannya. kendati sekrang, saya melanjutkan studi di Ambon, tapi Buru tetap nomor satu bagiku, tanah tmpat beta su rasakan banyak kehidupan..
    tunggu kami, para generasi muda yang akan kembali untuk BURU..
    wait us..we soon to back for develop you.
    AMIN.
    INA AMA, KAI, WAI, WALI DAWEN katong akan kembali tuk bangun BURU…

  81. teruskan korupsi di pulau buru..bgini2 aja di pulau buru..apa yg bagus?..coba sebutkan perubahan yang signifikan?lampu 24 jam nyala gak disana?yg “jalan di tempat”??..banyak..ya gitu2 aja..ikan susah,politik kotor,masyarakat bodoh diperalat politisi,harga mahal,buruh mahal,PNS produk nepotisme kolusi..semua cuma mimpi,broo..katong yg tau batul hidup disini…

  82. 99% yg tulis disini cuma koar2 kangen2 dll..pdhal mereka sbtulnya malah lari dari tempat sini..ada yg sekolah ada yg pindah dll.knp gak balik aja?gk enak ya?hehehe..yg balik cuma abdul kadir tan..jelas krn cina satu itu punya bisnis disini..dan kampung nene moyangnya mendarat di pulau ini.balik lah teman2..sekolah aja di iqra..tuh ada..bisa beli ijasah kok..yuk mari datang rame2 biar menderita sama2..nanti kalo siang bisa pake genset ngecas hape dan manjat pohon nyari sinyal wakakakakkk..bupati dah 3 kali..teteeeuuuppp waaaeee nyaaa..bahlul..

  83. tragissss

  84. Pulau yang Indah dan subur.. :)

  85. maaf mau tanya. Kakek saya hilang thn 65 pd bln nOVember, kira2 ada yg tau tdk dg keberadaanya? Mungkinkah kakek di pulau buru? Nama kakek bastami asal rembang-jateng. Tlg kbri saya y

    • yang saya kenal dari rembang adalah bpk Abd karim…i.a nanti saya tanyakan….

    • Apakah hilangnya ada hubungannya dengan G30S ? Saat itu sangat rawan, amuk massa menumpas semua yang berbau PKI seperti BTI, LEKRA, GERWANI dll., banyak terjadi pembantaian tak berperikemanusiaan. Setelah situasi dapat diatasi yang berkuasa mulai memilah-milah, ada gol A golongan terberat yang harus dikirim ke rumah masa depan atau sukabumi alias dibunuh. Gol B, golongan yang menghuni Pulau Buru, dan Gol C, golongan yang dianggap paling ringan, mereka menghuni penjara khusus lokal.Mungkin kakek Anda termasuk beruntung bisa menyelamatkan diri dan masih takut untuk kembali, atau saat ini sudah meninggal dalam pelariannya. Dan kemungkinan terakhir yang terburuk adalah telah menjadi korban amuk masa dikala itu

  86. Memang betul, Pulau Buru terkenal dengan Pulau Tapol, tapi klw kita telusuri lebih jauh tahun-tahun sebelumnya, pulau ini mempunyai banyak keanekaragaman budaya yang terintegrasi dalam satu kesatuan, yaitu dari Jazirah Arab, China, Malaka, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara dan lain-loain dengan sejarah yang tersembunyi dan terseimpan dari masing-masing suku bangsa tersebut…. mmmm….

  87. kni pulau bur telah berkembang dengan baik. tidak ada lagi TAPOL, tidak ada lagi kekerasan. yang ada hanya pesaudaraan. Allah telah memberi rahmat kepada pulau buru denga adanya penemuan tambang mas. semoga adanya penemuan tambang mas tidak menjadi bencana,

  88. salam. bang agus hilman salam kenal, saya ade, saat ini masih berstatus sbg mahasiswa, saya ada rencana untuk ke Buru boleh minta alamat email untuk diskusi lebih lanjut? tks.

  89. aku bangga menjadi anak muda dari pulau buru, walau saat ini aku tak berada dipulau itu, tp aku berjanji akan kembali,
    semangat untuk pemuda pulau buru,, I LOVE BURU island

  90. I LOVE BURU selalu,,,
    BURU is MY self

  91. Bahasan yg sngt bagus, jadi rindu pulau buru.
    Kebetulan sy lahir dan besar di sana tepatnya di unit S. Semoga perubahan besar akan terjadi di sana apalagi dengar” skrg ada tambang emas di temukan,sebenarnya memang banyak saksi terjadinya sejarah di sana..jiga sedang gembala sapi sering sy temukan barang antik,tembikar cina peninggalan masa lalu.
    Hingga 12 tahun yg lalu terpaksa sy dgn orang tua pindah ke jawa karena kerusuhan..semoga pulau buru tetap damai hingga sy bisa nengok kembali ke sana. Acang-obet tetap bersatu demi kedamaian bersama.

  92. As. Wr. Wb. Pak Mulyani, bagaimana kabarnya di P. Buru, Namlea dan
    Waenibe. Lama kita tidak berjumpa, semoga keluarga sehat selalu. Aamiin.

  93. kenalkan nama saya :joko pratomo, dikenal dengan panggilan TOMI, saya tinggal dan dibesarkan di desa savanajaya dan sampai saat ini saya masih disavanajaya dan mengabdi pada SD Inpres savanajaya, kalau saudara2 menginginkan informasi. atau mungkin ingin menyambungkan diri dengan keluarga, sanak saudara, handai taulan sahabat di savanajaya dan sekitarnya bisa menghubungi saya di: Pratomojk@yahoo.co.id atau langsung ke no Hp 085243277911. inysa Allah dibantu..Thanks

    • assalamualaikum wr wb…saya iman firmansyah efendi cucu dari Bp. Solihin/aki Ihin,,,skrang sy berdomisili d bandung,,,,,082116588788 ,,pin via sms

  94. Salam kenal…saya sangat terharu baca tulisan di blog ini…jadi kangen pulang kampung :-) saya lahir di Namlea, tp besar di Savanajaya (jd flashback ingat masa jadul hehe), ortu bertugas sbg guru di SD Inpres Savanajaya selama hampir 20 thn..keluarga saya sangat akrab dgn klg om Daryun, banyak yg jadinya reunian ya berkat tulsannya bg Agus Hilman ini :-D. Thanks atas tulisannya yg sangat menginpirasi walaupun P.Buru msh jauh dari kondisi ideal namun setidaknya apa yg telah Allah SWT anugerahkan sepatutnya disyukuri..krn yg perlu diperbaiki terlebih dahulu adalah manusianya saat ini demi melanjutkan cita2 perjuangan org2 yg telah turut berjasa dalam membangun tanah Bupolo :-)

  95. Membaca tulisan Mas Agus Hilman, membuat saya teringat ketika saya masih tinggal di savana, (1974 – 1986), meskipun pada 1983 saya sekolah di Ambon dan akhirnya Juli 1986 saya melanjutkan kuliah di yogya . Sekarang 2012, sudah 26 tahun saya meninggalkan savana dengan segala suka duka yang pernah saya alami, dan peristiwa yang paling terkenang adalah ketika saya mendapat berita kalau ibu saya tercinta meninggal dunia karena sakit (sementara saya karena ujian tidak bisa pulang), dan beliau dimakamkan di savana.

    Savana bagi saya adalah masa lalu yang terkadang jika dikenang akan terbersit masa-masa dimana saya sebagai kanak-kanak hingga remaja mengalami suatu kehidupan yang penuh dengan riak dan gelombang,..saya sangat salut dengan perkembangan savana saat ini (dari data yang saya baca melalui internet)., beberapa rekan saya waktu kecil ada yang sudah jadi anggota DPRD, ada yang jadi guru, dan bahkan beberapa ada yang mungkin malah jadi pengusaha atau bekerja sebagai pimpinan, pada perusahaan besar di jakarta,…buat rekan-rekanku semua,… yang terjadi dan yang kita alami dulu dan hingga kini adalah suatu hal yang dulu tidak pernah kita bayangkan jika kita melihat akan status dan kehidupan yang kita jalani dimasa kanak-kanak kita, ketika tahun-tahun dimana keberadaan kita tidak lebih baik dari “seekor binatang kudis”, yang selalu dijauhi (karena cap dan status ortu).

    Memang perubahan telah terjadi, dan hanya harapan yang kita inginkan adalah suatu “nilai kejujuran” oleh bangsa yang besar ini untuk “berkenan” pada “keadilan dan kejujuran penegakan hukum” . Jika saya membaca tulisan tentang “kehidupan” mereka yang pernah “terbuang dan teraniaya” oleh karena “perseteruan politik” , saya baru ngerti hal apa saja yang mereka alami dan mereka rasakan (sebatas yang saya tahu dari media internet) sekian puluh tahun dengan status yang disandangnya, sungguh miris. Tapi saya angkat topi dan kagum bahwa mereka kini menjadi orang-orang yang “justru sangat tabah dalam menghadapi tempaan” Mereka bukan menjadi pendendam, mereka menjadi orang-orang yang begitu tulus untuk me-maafkan. Langsung ataupun tidak, bahwa keberadaan mereka pada masa-nya telah memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan di savana dan sekitarnya,…dengan susah payah mereka harus mempertahankan hidup dengan membuka lahan pertanian yang sekarang saya dengar sudah menjadi Lumbung padi untuk wilayah Maluku….hal yang sungguh hebat,…savana dan sekitarnya menjadi bagian yang menjadi penyokong pangan di Indonesia,…Semoga perjuangan mereka yang telah susah payah dengan “segala keterpaksaan” dan akhirnya membawa suatu kesejahteraan, akan mendapatkan bagian yang setimpal dari sang khalik,..

    Oleh karenanya, saat ini dimana kita memasuki bulan yang penuh dengan ampunan dan penuh dengan rahmad dari Allah SWT, hendaknya kita semakin mempertebal iman kita untuk me-maaf-kan dan senantiasa menjadi manusia yang selalu bersyukur dengan apa yang kita alami, karena semua yang kita alami adalah bagian dari ujian akan iman kita, hendaknya kita menjadi pribadi yang pasrah, ikhlas dan berserah hanya kepada sang khalik Allah SWT.

    Semoga di bulan suci Ramadhan 1433 H ini kita dapat memperoleh “kemenangan” untuk melawan segala nafsu kotor, kita menuju hari yang indah dan penuh barokah yaitu Idul Fitri 1433H. Saya ucapkan SELAMAT IDUL FITRI 1433 H, Mohon maaf lahir dan bathin…semoga kedamaian, kasih sayang, kerukunan, saling menghargai serta ketulusan semakin tercipta dalam pribadi kita.
    Amin,….semoga savana dan sekitarnya semakin berkembang menjadi wilayah yang gemah ripah loh jinawi,… saya berharap suatu saat nanti saya bisa ke savana,…. salam damai sejahtera bagi kita semua.

  96. halo mas hilman, salam kenal, saya mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di bandung, sebelum lulus ada sedikit obsesi yg ingin saya lakukan salah satunya yaitu napak tilas perjalanan penulis idola saya pramoedya anata toer di pulau buru, saya berencana backpacking kesana, mohon informasi tentang disana lebih lanjut (semisal akomodasi termurah, transportasi kesana dll) dan juga jika boleh saya minta dikenalkan kepada penduduk setempat yang paham sejarah tapol dan tempat2 bersejarahnya di pulau buru, jika sempat tolong email saya ke septia.agustin@gmail.com. terimakasih :)

  97. Ass, mas cerita n pengalaman nya bagus, malah malah saya yg udah lama mengajar di pulau buru, tepatnya di buru utara barat di kec. Airbuaya di SMKN BUMILALE belum pernah sampai menelisik jauh kedalam sejarah n masa lalu pulau buru. Karna skrg ini pulau buru udah berbeda dg dulu, namun kalau untuk dunia pendidikan di pulau buru masih sangat kurang karna, masih banyak anak-anak usia sekolah mereka dan orang tua mereka msh menganggap sekolah hanya sekedar mencari ijasah dan kebanggan bagi mereka kalau anaknya bisa jd pegawai, atau anggota dewan, kadang kalau saya memberikan motivasi sebelum pelajaran mulai terkait dg lapangan pekerjaan mereka hanya mau jd pns, lainya tidak, padahal smk kami smk teknik, namun sejak pulau buru ini di ketemukan gunung emas yang melimpah yang mulai di tambang secara bebas oleh masyarakat sejak bulan juli lalu hingga sekarang pulau buru menjadi padat akan penambang emas yang mereka datang dari seluruh penjuru tanah air, dan hal ini mengakibatkan harga pangan yang melonjak tinggi dan setok bahan pangan menipis, hingga para petani di unit alih profesi menjadi penambang emas, dan hal ini jg yng membuat siswa kami banyak yg tidak masuk sekolah ijin untuk berkijang atau menjadi buruh angkut material, dengan gaji sekali angkut 200rb, dan ketika kami beri panggilan peringatan mereka menjawab cari uang dulu bu, dan mereka seakan bangga dg mencari uang sbg buruh angkut material, karna menurut mereka hasilnya banyak dan mereka bisa membeli sepeda motor, bukan hanya itu para guru yang sudah pns pun ikut mencari uang di gunung mas tersebut, hingga banyak sekolah yang gurunya pada alih profesi di gunung emas tersebut, buat para pembaca n buat para pengagum n pemerhati pulau buru n juga buat p masril koto yg fany pernah berjumpa dg beliau di kapal elisabeth menuju ambon , saya mhon bantuan dan saran dan masukan agar kami yang bertugas di pulau buru ini benar benar bisa menjalankan amanat bangsa dan amanat negara. Terimakasih dan terus mengikuti perkembangan pulau buru ya, karna hingga muncul banyak korban atas tambang emas itu namun pemerintah belum bisa mengambil kebijakan agar pengolahan tambang emas tak menimbulkan korban yng lebih banyak dan harga pangan dan bbm tak mahal, saya hampir satu hari gak pergi kesekolah karna harga bensin 1 ltr mencapai 20rb itu pun harus mengemis meminta minta, dan harga minyak tanah 1 liter mencapai 10rb, kami banyak resah dan jg bingung kenapa hingga kini mentri pertambangan tak mengambil alih pengelolaan tambang itu, dan mendatangkan para investor agar buru tak mengalami perekonomian yg tak menentu ini cepat berakhir, karna gaji kami satu bulan hampir tak bisa kami tabung buat pulang, mas tolong dong sampaikan pada pak mentri pertambangan yg ada di jakarta ya??? Makasih.

    • Salam hormat dan salam kenal untuk Ibu Fany yang berada di Airbuaya.

      Baru kali ini saya bisa menemukan website atau situs tentang Pulau BOEROE yang ternyata banyak sekali memuat comments dan responds dari para pembacanya. Sedikit sekali tulisan yang memaparkan keadaan di pulau itu dan itupun kelihatannya ditulis sebagai formalitas saja yang hanya memuat tulisan keadaan sekitar kota Namlea saja. Mungkin penulisnya takut kalau akan dihubung-hubungkan dengan kejadian silam yang berkaitan dengan Inrehab Tapol PKI.
      PKI sampai saat inipun masih dikambinghitamkan untuk segala tindakan yang kotor, jahat dan nista hina, sedangkan kita tahu orang-orang yang sering melontarkan kata-kata itu yang menyebut dirinya sebagai orang terhormat pejabat orde baru pikiran dan perbuatannya melebihi perbuatan orang-orang yang mereka hinakan itu. Orang Jawa bilang “becik ketitik ala ketara” kenyataanlah yang akan membuktikan !!

      Nama saya Soekartono biasa dipanggil BUCE Toni Tasijawa sebuah nama famili dari suku terasing di pulau Boeroe yang ternyata berasal dari P Jawa yang dulunya adalah pengikut Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit dalam usaha perluasan wilayah Nusantara. Nama itu diberikan kepada saya oleh Mat Gugul kepala suku sebagai kehormatan dan kenang-kenangan dari mereka.

      Tahun 1974 s/d 1977 saya pernah berada tinggal di WAMLANA sebagai salah seorang Tenaga Kerja Sukarela BUTSI angkatan VI. Di kecamatan Airbuaya kami berempat: Haryoko di Waenibe, Saya di Wamlana, Sumarah Ibnu Naskah di Airbuaya, Didiet di Bara. Waktu itu kami masih muda sekitar usia 25 tahunan. Waktu itu Camat di Airbuaya adalah Bapak UMAR KAAPA BA . Tanyakan pada penduduk terutana tokoh-tokoh masyarakat apakah masih ingat nama-nama itu.

      Saya sekarang tinggal di Kecamatan Tambakboyo Kabupaten Tuban Jatim.
      Untuk Facebook saya pakai nama Toni Tasijjawa. Saya cukupkan sampai disini dulu mudah-mudahan bisa nyambung dan berlanjut. Salam

  98. Salam sejahtera semuanya….setelah sekian mencari akhirnya ktemu juga tulisan ttg P.Buru, saya Made Munarda, saya juga anak salah satu tapol yang lahir di Unit IV Savanajaya tahun 1973, kita dulu tinggal di blok C No. 16, cuman sayang saya hanya 5 tahun disana yang mana pada tahun 1978 kita semua dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Sekarang saya domisili di Bandung .

    Untuk umuran segitu, saya tidak terlalu ingat tentang memori masa kecil dulu, hanya beberapa saja, misalnya gedung kesenian, bukit2, pantainya, pohon kayu putih, sawah…suatu kali saya pernah buka google earth, untuk mencari kembali rumah kami yang dulu, tapi saya sama sekali tidak ingat….bisa minta dibantu posisi savanajaya nya?

    Bisa sharing kondisi savanajaya sekarang? mungkin suatu saat kita yang generasi selanjutnya dari anak2 eks tapol ini bisa berkumpul….ini alamat e-mail saya : narda_pa@yahoo.com. hp : 0852.20298254…Trimakasih

  99. salam hangat dari generasi penerusmu.,
    I LOVE Pulau Buru.,
    beta pung hati akan selalu merindukanmu..

  100. saya prnah tngal pulau buru.dsavana jaya dri thn 2007 hingga 2012.
    msh banyak bangunan” sjarah yg diabaikan, trutama bnteng” yg terpendam hingga 1-1,5 mter…

  101. Pulau Buru,,,, saya ingin kesana!!!!!

  102. i love buru island.. retemena barasehe

  103. bara prenge geba 2 dika babsara ..islam kristen kita halu sama hai…retemena barasehe

  104. bapa saya penari topeng kelana dari unit 13
    namanya: endang ganda
    bapa saya sekarang di tasik malaya, maonjaya, cicalung, RT10 RW 03

  105. memang pulau buru banyak sejarahnya, saya lahir di buru dan dibesarkan hingga umurku 22 thun ini tapi blm pernah pergi untuk mencaritau tentang sejarahnya kanapa sempai banyak orng jawa yg mendiami bagian unit tersebut. makasih kk atas tulisannya yang menbuat saya terharu tantang cerita salah satu papol itu(bapak pramoedya ananta toer).
    PULAU BURU RETEMANA BARASEHE

  106. Datanglah ke Waspait Resort Buru di desa waspait akan lebih bisa menikmati keindahan pulau buru

  107. @alfa zera tasidjawa…

    beta anak asli pulau buru…seng bisa tidur siang malam tagal inga pulau buru…

  108. puki eeeeee

  109. 081945059118 . …tlp juaaaaa biar tw lai broo

  110. anak lamahang

  111. buru adlah nama belakang pacar sy yg d ambil dr sbuah pulau,, karna penasaran yg kata nya sbuah pulau yg pny sejarah nya.. akhrnya sy pun tau . bahasan nya bikin sy terharu rasa nya sy pun ingin menjajakan kaki k pulau buru.. ^_^

  112. saya ex tapol pertama yg bikin minyak kayu putih di unit 15 indra pura besama dr marsudi sumanto terus pindah di unit 10 wanadarma 2 untuk unit 3 tempat orang kampungraja gunung fatiwel,muni kepala soa,waiysangan,lorot,kp baru,fatanat

  113. umur waktu itu 21 th saya tidak tau apa itu politik, semua penjara saya diami,suatu korban politik, apa saja dimakan untuk mempetahankan hidup alhamdulilah say bisa pulang ketanah jawa . tidak punya celana karung plastik untuk celana . tidak tau tgl dan taun bekerja dan bekerja. wanapura.wanareja.wanayasa.savanajaya/wanareja.wanawangi.wanasurya.wanakencana.wanadarma.giripura lainya lupa ,saya selalu kirim doa untuk teman2 yg meningal amin jangan ada kerja paksa seperti pulau burusaya tak akan datang ke buru mengingat lapar dan penderitaan.hujan tetap kerja banyak yg disambar petir waslm

  114. Saya adalah ex.penghuni Unit IV Savanajaya,kemudian dipindah ke unit 13 giripura,terakhir ke unit S.Dengan “keringat,darah dan air mata” kami membuka hutan dan alang2 untuk bisa menjadi kebun dan desa layak huni,karena kalau tak kami lakukan maka cacing tanahlah yang akan memangsa darah dan raga kami.Sekarang saya hanya tersenyum kalau ada orang yang menulis ceritera tentang pulau Buru,karena derita itu tak kan pernah mereka bisa rasakan.Kalau ada biaya ingin saya menjenguk ex Unit IV dan Sanleko yang dimana saya pertama kali bergelut menyabung nyawa di Buru menjadikannya suatu daerah beradab yang dengan nyaman untuk ditinggali.Terrimakasih bung Hilman masih mengingat kami,manusia2 terbuang

    • Oh ya lupa lanjutan diatas; saya dipanggil Ocok dari barak VII,UNIT 4 Savanajaya, cikal bakal DESA Savanajaya. Kerja pokok dipenggergajian. Disamping itu kerja disawah,ladang kalau diperlukan oleh barak/ unit dan juga pernah buat garam di Sanleko.Kenyang saya dapat hukuman dari Tonwal (peleton pengawal):jungkir2,merayap dipukul pakai bogem mentah,kayu,bahkan popor bedil,tanpa alasan yang jelas. Pada waktu keluarga tapol datang saya dipindahkan ke unit 13 Giripura. dan saat pemulangan dimulai saya dipindahkan ke Unit S .

      • Kang Ocok kenapa Anda memilih untuk kembali ke Jawa, kenapa tidak memilih saja untuk tinggal di Pulau Boeroe saja, atau karena rindu kepada keluarga yang Akang tinggalkan ? Waktu masuk ke Inrehab Tapol apakah masih bujangan atau sudah berkeluarga? Banyak kejadian yang seperti itu – isteri di Jawa bilang masih setia menunggu, tetapi nyatanya sudah pindah kepelukan laki-laki lain, surat yang dikirim hanya sekedar basa-basi untuk penghibur saja.

  115. Bara sislale kami TAPOL

  116. Menyedihkan sekaligus mengasyikkan ,membaca bnyak versi ttg pulo buru. Banyak yg merindukan kehidupan di buru karena keindahan alam dan srjarah kelamnya. Namun, gmn kehidupan yg sesungguhnya kini di sana, apk cuma mimpi2 indah tanpa kenyataan???

  117. Saya sangat suka dengan pulau buru

  118. Saya sangat suka dengan pulau buru

    • Menyukai Pulau Boeroe pasti ada alasannya dong, karena penduduk asli, dari keluarga yang pernah menjadi warga Inrehab Tapol, pernah berkunjung kesana, atau sering membaca buku2 yang menceriterakan tentang pulau itu ???

  119. Pulau buru ada tempat kelahiran ku 6 september 2000 di pulau buru sangatlah asyik walau pulau buru di bilang kecil di bandingkan bandara soekarno hata tapi bagi kami bangsa pemuda pulau buru disinilah tempat kami M.FARIZAL SAHUPALA

  120. Pulau buru sangalah pantas untuk tidak di lupakan saya lahir di pulau buru dan besar di sana sya bangga kepada pulau buru dan saya bissa mewakili org org yg ada di pulau buru dalam olah raga sya pun bngga sekali dengan perihal ini

  121. Aku sangat berkesan sekali waktu bekerja di pt waspait resort buru sebagai HRD/PERSONALIA dibawah kepemimpinan Bapak Hendra selaku Owner dan Mbak Narti Draker selaku pimpinan tahun 2008 saya berharap bisa datang kembali ,dengan keramahan penduduk waspait waekose dan keindahan pantainya dari kikip martono.

  122. Saya tidak tau harus mengadu pada siapa? tolong saya… bulan lalu saya menugur berkas untuk menikah dengan calon suami saya, dia seorang TNI-AD. tapi saat di kelurahan, saya terkejut dan gak bisa melanjutkan berkas karena di kelurahan saya diberitahu bahwa ayah saya adalah seorang eks-PKI golongan C.
    bapak saya bukan PKI, dia adalah korban tertuduh pada masanya..
    dan, apakah sakit yang diderita bapak saya harus ditanggung oleh keturunannya???
    dia tidak berbuat apa2, apalagi saya… tahun 2014 ini apakah tahun 1965 yang menjadi acuan??
    ketidakbenaran ini kah yang harus diturunkan pada generasi seterusnya??saya mohon bantu saya, adakah instansi yang bisa menampung masalah ini? saya tidak tau harus mengadu pada siapa…
    sekali lagi, tolong bantu saya.. haruskah saya menderita hanya karena apa yang tidak pernah diperbuat saya dan ayah saya???

  123. Sebagai Putra asli anak adat buru (pribumi) asal masarete – Lesnussa (masbait) merasa terkagum2 dengan cerita papol yang dibuang di pulau buru. Sebenarnya masih ada lagi yang belum diceritakan dan diketahui oleh tim mas agus. Klw ketahui pasti lebih merasa terpesona

  124. sekalipun saya suku jawa, saya lahir di buru. dan saya orang buru!
    saya suka dengap judul di atas. rencana saya aakan membuat karya seni yang di dalamnya menceritakan tentang budaya pulau buru. tapi, konsep daerah yang belum menguatkan saya untuk membuatnya.

  125. Aku tahira anak dari pasangan suami istri yg bernama DRS.h japri kabalmai dan siti hindun. Ayahku dulu bekerja di kantor kemenag kab. Buru ibu guru di madrasah aliyah alhilal namlea skrng aku berada di sulawesi selatan aku lahir di namlea dn sekolah di sd negeri 1 namlea saya sangat bangga mnjdi orang buru tapi mngkn suatu saat saya akan melupakanxa. Karena ayah saya menjadi kepala kantor di namrole.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: