GERMA, TERGERUS ROMATISME DAN KEKUASAAN

Oleh AGUS HILMAN 

ISLAM bukan hanya agama yang mengajarkan untuk berbuat penuh kasih sayang (rahmatan lil alamaien), tetapi juga agama yang meletakkan alam ide sebagai posisi pemimpin. Hal tersebut selaras dengan doktrin Islam yang menjadikan al-Qur’an sebagai imam bagi seluruh umat Islam, karena al-Qur’an merupakan kumpulan gagasan Tuhan yang bersifat immaterial. Peletakan akal dan rasio sebagai sesuatu yang agung juga dapat dijumpai dari banyaknya penghormatan agama terhadap orang-orang yang berakal.Deskripsi tersebut menandakan bahwa Islam sebagai ajaran agama dan pegangan hidup manusia (hudan li al-naas) tidak bersifat stagnan, melainkan terus memuai dan bergerak dinamis.

Dinyatakan dinamis, bukan berarti seluruh ajaran Islam mengikuti alur sejarah pemikiran manusia secara liar dan tanpa batas etika. Ajaran yang dinamis berarti senantiasa membuka ruang dialog dan tidak menfinalkan ajaran Islam yang nota bene merupakan hasil tafsir manusia.Akan tetapi, kondisi yang seharusnya di atas acap tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Umat Islam cenderung mematenkan hasil tafsir para ulama terhadap ajaran agama.

Akhirnya, ketika terjadi upaya tafsir ulang atas ajaran agama yang bertolak belakang dengan hasil tafsir mainstream justru dianggap sebagai upaya meruntuhkan ajaran agama. Kecaman dan pengkafiran pun bermunculan. Itulah yang pernah dialami beberapa tokoh pembaharu Islam di Indonesia seperti Ahmad Dahlan, Abdurrahman Wahid, Ahmad Wahib, dan Nurcholish Madjid.  

Revitalisasi

Pada ranah tersebut, keberadaan organisasi-organisasi kepemudaan yang berbasis pada tradisi Islam menjadi penting sebagai lokomotif yang menggawangi penyegaran kembali pemikiran Islam di Indonesia. Basis kader OKP Islam yang terdiri dari anak muda dan kalangan terpelajar merupakan alasan dan modal paling dasar dalam hal ini. Modal sosial tersebut juga ditopang oleh modal historis bahwa para tokoh pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia lebih banyak lahir dari rahim organisasi-organisasi pemuda Islam. 

Sayangnya, alih-alih menjadi lokomotif, kantong gerakan kepemudaan Islam kini justru terjebak pada pengembangan pemikiran Islam yang jumud dan statis. HMI misalnya, cenderung memperlakukan buah pemikiran para seniornya yang mendapat apresiasi di dunia Islam dijadikan sebagai kebanggaan karena dianggap pemikiran yang par excellence. Kebanggaan yang berlebihan atas karya generasi pendahulunya menjadikan mereka enggan untuk berkarya. Naifnya, munculnya upaya kritik dan rekonstruksi atas pemikiran keislaman pemikir pembaharuan Islam – seperti Cak Nur misalkan — justru dipandang sinis.

Ditengah kejumudan pembaharuan pemikiran tersebut, libido politik dari OKP Islam justru meninggi. Indikasi tersebut dapat dilihat dari gencarnya organisasi-organisasi kepemudaan dalam merespons persoalan politik kekuasaan, tapi luput mendampingi kecerdasan politik rakyat jelata. Pergulatan wacana antar dan intra-OKP berubah wujud menjadi pertarungan kekuasaan di antara mereka. Di dalam kampus, perebutan politik sudah akrab ditelinga. Tetapi, perang wacana dan gagasan malah menjadi barang yang teramat langka. Belum lagi masalah geliat kader-kader OKP Islam ke kancah politik nasional semakin menambah pamor gerakan intelektual semakin sepi. Mereka lebih bangga dengan alumninya yang jadi pejabat daripada menjadi intelektual. Akhirnya, kesadaran keislaman ; melakukan kerja-kerja pembaharuan pemikiran keislaman, hampir tidak ada di dalam diri para aktivis OKP Islam dewasa ini. Alih-alih gelisah atas kejumudan pemikiran Islam, mereka tidak jarang menjadikan organisasi sebagai batu loncatan untuk karir politik pada masa mendatang.  

Kultur Baru

Dengan demikian, penyegaran pemikiran Islam di dalam tubuh OKP Islam tidaklah mudah untuk dilakukan. Perombakan kultur internal organisasi harus secepatnya dilakukan. Persentuhan OKP Islam dengan politik sudah seharusnya dirampungkan. Memang, melawan dan mendekonstruksi kultur tersebut tidaklah semudah membalikkan telapan tangan. Karena kecenderungan orientasi pada kekuasaan tersebut sudah tertanam sejak lama.

Karenanya, untuk membangkitkan kembali gairah pembaharuan pemikiran Islam di dalam tubuh OKP Islam, harus ada itikad kuat di dalam diri kader untuk melakukan rekayasa secara menyeluruh. Tidak hanya merombak dan mengkritisi kembali teks-teks organisasi, tetapi juga menengok ulang sistem perkaderan dan doktrin militansi yang selama ini dijejali di dalam diri kader-kader organisasi kepemudaan Islam. Dengan upaya tersebut, diharapkan akan mampu memecah kebekuan pemikiran keislamanan, baik secara internal maupun untuk seluruh umat Islam. []

Iklan
GERMA, TERGERUS ROMATISME DAN KEKUASAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s