KEARIFAN RELIGI MASYARAKAT LOMBOK

masjid-sasak.jpg

Oleh AGUS HILMAN 

SALAH satu keunikan Lombok dengan berbagai pulau yang mayoritas berpenduduk Muslim di Indonesia adalah terhamparnya banyak bangunan masjid. Hampir dapat dipastikan setiap kampung musti memiliki masjid. Ukuran masjid-masjid tersebut besar dan megah-megah. Tidak heran jika ada yang mengatakan santren (baca; mushalla) di pulau Lombok, sudah dianggap masjid di pulau Jawa. Menariknya, sekalipun megah masjid-masjid di Lombok jarang – meskipun ada tapi pengecualian — dibangun dengan cara meminta-minta di jalan seperti yang terlihat di beberapa tempat. Meminta dipandang sebagai tindakan yang dapat memalukan kampung. Semangat tersebut menunjukkan tingkat kesadaran religius  masyarakat Lombok sangat tinggi.

Religiusitas masyarakat suku Sasak sebagai penghuni asli pulau Lombok untuk mendirikan masjid menjadikan pulau Lombok dijuluki sebagai pulau seribu Masjid, laiknya Bali yang menjadi pulau seribu Pura. Bahkan masjid yang pada awalnya sebagai tempat shalat dan berdoa umat Islam, bergeser menjadi semacam prestis sosial bagi masing-masing kampung. Misalnya, kampung tertentu akan malu dengan kampung tetangga jika tidak memiliki masjid sendiri.

Di dalam agama Islam masjid menempati posisi yang sangat strategis untuk pengembangan Islam dan pemberdayaan umat. Pada zaman nabi Muhammad, masjid tidak hanya berfungsi menjadi tempat ibadah, melainkan juga menjadi pusat administrasi, tempat berdakwah, dan bahkan dijadikan sebagai markas untuk merancang strategi perang melawan para agresor. Masjid pada zaman awal Islam berparas multifungsi yang tidak melulu hanya berfungsi untuk shalat saja. 

Religi Tradisi

Posisi agama dalam kesadaran masyarakat Sasak di pulau Lombok sangat penting. Agama tidak hanya menjadi pondasi sosial dalam membina moralitas individu dan kelompok, melainkan begerak dan menyatu di dalam sistem budaya. Kendati masyarakat Sasak di Lombok tidak memiliki prinsip verbal seperti masyarakat suku Minang, adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah, bagi masyarakat Lombok agama harus menopang segala lini sistem sosial, budaya, maupun politik. Karena itu, melanggar hukum agama menjadi satu hal yang tidak dapat ditolerir karena sering juga dianggap melanggar tradisi.

Oleh karena itu, menelisik lebih dalam keberagamaan masyarakat Lombok menarik untuk didefenisikan kepermukaan. Tingkat religiusitas masyarakat Sasak sangat khas dan berbeda dengan religiusitas kelompok menengah yang selama ini cukup trend, seperti gerakan keagamaan Salafy, Tarbiyah maupun Hizbut Tahrir dengan simbol jenggot dan celana di atas mata kaki. Masyarakat Sasak di Lombok dapat dikatakan cukup sulit untuk dimasukkan oleh gerakan-gerakan Islam formal tersebut. Hal tersebut menandakan bahwa sekalipun masyarakat masyarakat Sasak religius, tetapi tidak mudah menerima suatu ajaran yang baru bagi mereka.

Bagi masyarakat Sasak terkadang sangat susah membedakan nilai tradisi dengan nilai-nilai religi atau agama. Persentuhan tradisi dengan agama ini menjadikan masyarakat Lombok sangat fanatik terhadap nilai agama. Pasalnya,mereka tidak hanya mempertahankan nilai agamanya tetapi juga menjaga eksistensi tradisinya. Pada level ini, masyarakat Sasak telah melakukan sakralisasi atas tradisi. Simbiosis mutualis semacam ini memang banyak terjadi di dalam praktik keberagamaan di Indonesia. Persentuhan Islam dengan masyarakat setempat meniscayakannya tidak menegasi totalitas tradisi masyarakat lokal, melainkan dikombinasi dan dicampur sepanjang tidak melanggar garis prinsip Islam.

Beberapa aksi masyarakat Sasak Lombok terhadap keberadaan aliran Ahmadiyah yang memaksa para penganutnya untuk pindah dari kampung mereka adalah bagian kecil contoh tersebut. Atau perlakuan anarkis di daerah Lombok Barat dengan melempar batu dan mengusir para pengikut gerakan Salafy dari kampung juga perlu dicermati. Pandangan miring juga dialami oleh kelompok organisasi Muhammadiyah ketika awal-awal mereka membesarkan organisasinya di pulau seribu masjid ini. Keberadaan paham-paham yang berbeda dengan praktik keberagamaan nenek moyang tidak hanya dianggap menyimpang, tetapi juga diperhitungkan sebagai ancaman. Karenanya, serangan represif dilakukan sebagai sikap defensif yang berlebihan atas rasa keterancaman masyarakat lokal atas kepercayaan turun-temurun mereka. Titik SentrumStruktur sosial pada masyarakat feodal, posisi priyayi menempati tempat teratas. Karena, ia tidak menjadi pemimpin di dunia tetapi juga menjadi representasi titisan dewa-dewa di langit. Ketika sistem masyarakat berubah dari basis tradisi ke basis religi, struktur sosial pun berubah. Peran priyayi diambil-alih oleh pemuka-pemuka agama. Raja tidak lagi memegang kendali ganda (agama dan negara) tetapi hanya memainkan fungsi para ranah negara semata (sekalipun ini tidak determinan). Wilayah agama hanya menjadi otoritas para kiai. Deskripsi tersebut juga terjadi di dalam masyarakat Sasak. Jejak feodal kini bergerak ke kharisma-kharisma para Tuan Guru (Kiai di Jawa). Tuan guru menjadi salah satu titik sentrum kharismatik di dalam masyarakat Sasak.

Hampir dapat dipastikan, masyarakat ketika bergeser ke basis religi, pemuka agama menempati posisi yang sangat tinggi. Selain di Lombok, hal tersebut dapat dilihat pada masyarakat Madura. Perkataan kiai seolah sabda yang tidak dapat diganggu-gugat. Akan tetapi berbeda dengan di Jawa dimana basis tradisinya jauh lebih kuat dibanding religinya, seperti di Yogyakarta dan Solo dimana kraton masih menjadi sentrum. Karena itu, jarang kita temukan masyarakat Jawa yang begitu fanatik terhadap kiainya, kecuali Jawa pesisir di pantai utara. Tuan guru, dalam masyarakat Lombok, salah satu posisi yang sangat dihormati dan agung.

 

Oleh karena itu, agama memainkan peranan besar di dalam masyarakat Lombok. Perubahan-perubahan sosial akan dapat dilakukan jika agama ditempatkan sebagai peran urgen dalam agenda rekayasa sosial pada masyarakat Lombok. Posisi titik sentrum seperti tuan guru, masjid, dan lainnya perlu digandeng. Fanatisme orang Sasak terhadap agama pada satu sisi merupakan aset sosial yang harus terus di jaga ditengah gempuran tradisi asing yang menyesaki ruang-ruang sosial-budaya kita. Akan tetapi pada sisi lain, jika pengelolaan salah, tidak menutup kemungkinan akan mengancam demoraktisasi dan kemajuan di Lombok sendiri. Misalkan, kelak tidak menutup kemungkinan akan meledak tragedi yang melebihi kerusuhan SARA pada tahun 2000 ataupun diskriminasi terhadap penganut Ahmadiyah.

 

 

Iklan
KEARIFAN RELIGI MASYARAKAT LOMBOK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s