IDENTITAS BERSYARI’AH DI KAMPUNG GLOBAL

masjid-haram.jpg 

Oleh AGUS HILMAN

PEMIKIR asal Belanda, Martin van Bruinessen pernah melontarkan kegelisahannya perihal corak Islam di Indonesia. Dia melihat pergeseran corak gerakan Islam yang semakin bergeliat ke arah pemikiran-pemikiran formal. Corak Islam formal yang dahulu sekedar komunitas devian kini semakin menunjukkan potensinya menjadi kelompok dominan di Indonesia. Kenyataan itu bukan tanpa bukti. Di berbagai daerah, kini berlomba-lomba mengeluarkan dan menerapkan peraturan-peraturan syari’ah Islam seiring dengan kran otonomi daerah diterapkan.

Setelah Aceh menerapkan hukum syari’ah, daerah pun sedang berjuang menyusul. Sulawesi Selatan kabarnya mulai mendesak agar bisa menerapkan hukum Islam seperti di Aceh dan melalui Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) memimpikan Sulawesi Selatan menjadi ”Serambi Madinah”. Adanya corak formal pada pergeseran beragama di Indonesia bukanlah tanpa bukti. Sebagai reaksi, di Papua Barat muncul gerakan untuk menegakkan syari’at Kristen dengan mendirikan Kota Injili yang melarang muslimah berjilbab. Sebuah reaksi yang ”wajar” di tengah gempuran formalisasi syari’at Islam di berbagai daerah. Fenomena ini tentu sangat memprihatinkan integritas  kebangsaan sehingga memunculkan pertanyaan besar, fenomena apakah ini ?

Modernisme yang ditandai dengan kemenangan rasio atas mitos, telah meruntuhkan seluruh tatanan manusia yang sebelumnya dimutlakkan memancarkan kebenaran. Ilmu pengetahuan memimpin dunia. Alat-alat teknologi pun lahir sebagai ejawantah kemajuan rasio. Konsekuensi sejarahnya, kemunculan teknologi dengan serta-merta merubah mindset masyarakat dunia. Perubahan mindset mendorong nilai baru mendobrak nila-nilai budaya lama. Munculnya mesin produksi telah merubah relasi buruh dengan majikan. Revolusi tekonoligi informasi meleburkan jarak dan waktu seolah tanpa masa. Penetrasi dan reproduksi budaya dan nilai sosial begitu cepat terjadi. Syahdan, dunia yang begitu luas, tiba-tiba menjadi mungil (bahasa McLuhan, Global Village). Perjumpaan masing-masing komunitas yang dulu jauh tidak dapat dielakkan.

 

Dalam langgam perjumpaan yang demikian beragam itu, semua komunitas mendefenisikan dirinya. Deferensiasi adalah efek internal dalam diri manusia/komunitas untuk membedakan dirinya dengan entitas diluar dirinya (the other). Sejak bayi, dia sudah diajarkan ini bapak dan itu ibu yang berbeda dengan kamu. Deferensiasi menjadi bagian langkah untuk medefenisikan diri yang belum utuh dipahami oleh subjek itu sendiri (Mark Brecher : 2005). Begitu juga, ketika perjumpaan komunitas yang menembus batas pada era global semua komunitas mendefenisikan diri masing-masing dalam realitas yang penuh cermin ini (baca; globalisasi). Muncullah benih-benih konsep the other (yang lain) yang pada akhirnya nanti mengeras menjadi ingroup dan outgroup. Muncullah identitas yang menjadi problem di era ”dunia mungil” ini.

 

Pada dasarnya, identitas begerak simultan dan tidak pernah final (Hans Mol : 1976). Identitas terangkum dalam berbagai materi yang acak dan beragam (Amin Maalouf : 2004). Menariknya, agama ketika hadir dalam ruang demikian, justru memahami identitas secara final sehingga mengeraskan dan mematenkan identitas yang melekat dalam dirinya sebagai satu-satunya identitas yang mutlak kebenarannya. Di tengah kontestasi identitas di era global ini, pergerakan identitas agamalah yang menarik dicermati. Kontestasi identitas agama inilah yang sering kita sebut-sebut selama ini sebagai era kebangkitan agama yang menghantarkan Hutington pada tesis clash of civilization. Bukan aspek spiritualitas agama yang mencuat, melainkan identitas dan formalitasnya. Semua agama (Islam, Kristen, dan Hindu) berlomba-lomba menunjukkan identitas mereka.

Runtuhnya gedung WTC, tragedi berdarah di Poso & Ambon, radikalisme Hindu di India, dan deretan bom bunuh diri adalah tayangan yang memaparkan begitu mengerikannya absoluditas identitas agama. Tidak ada dalam panggung sejarah manusia yang menulis sejarah perjalanannya dengan ”darah” se-dahsyat sejarah agama. Padahal, agama diciptakan untuk melampaui segala sekat-sekat identitas (cross identity) yang menyekat manusia. Sakralisasi agama mematri identitas agama sebagai yang absolut dan tak terjamah oleh sejarah . Identitas agama tidak dilihat dalam langgam yang profan melainkan sakral dan absolut. Identitas, yang pada dasarnya tidak pernah final, itu pun terkunci dan dianggap final. Beragama menjadi problematis, karena serta-merta memaksa sekian simbol dan identitasnya menyingkirkan kebaradaan yang lain.

Sementara  itu setiap komunitas dalam ranah global, bergerak dengan hasrat defensif dan ekspansif. Begerak defensif untuk membentengi ego agar tidak tercemar oleh the other culture sembari menyebarkan pengaruhnya secara ekspansif dan massif. Dus, logika sistem sosial pada ranah global kemudian berkelindan pada prinsip evolusi sosialnya Spencer, the survival of the fittest. Siapa yang kuat dialah yang menang. Bukan dialog dan saling pengertian yang muncul, melainkan saling membinasakan dan memusnahkan budaya lain. Identitas yang terpinggir kemudian harus melawan sekuat tenaga dengan melakukan formalisasi. Akhirnya, agama menjadi tempat persinggahan identitas, karena pengorbanannya mengkonpensasi kebahagiaan abadi setelah mati (baca; syahid). 

Fenomena di atas serta pernyataan Martin van Bruinessen yang disebut pada awal tulisan ini, pada dasarnya menggambarkan sebuah show of force dari suatu komunitas untuk menampilkan identitas mereka. Sistem kejam globalisasi yang berpijak pada prinsip the survival of the fittest yang meniscayakan adanya peminggiran musti akan melahirkan aksi balik. Karenanya, aksi yang menampilkan identitas terjadi sebagai bentuk reaksi atas reprsesi peminggiran jati diri oleh kelompok dominan yang kemudian mereka anggap sebagai the others. Itulah corak beragama yang sedang banyak jumpai akhir-akhir ini. Kerasnya desakan formalisasi Islam di berbagai daerah merupakan cermin jati diri yang terpinggirkan oleh sistem. Begitu juga dengan hasrat masyarakat Papua Barat untuk membangun Kota Injili juga reaksi atas dominasi terhadap diri Kekristenan mereka.

Memang arus ada suatu pemikiran mendalam untuk mengimbangi kekuatan gerak agama yang mengidentitas ke segala lini kehidupan saat ini. Bukan untuk membunuh, melainkan mengimbangi. Bukan pula dengan cara menghujat mereka, melainkan diajak untuk dialog dengan cara yang halus tanpa meminggirkan jati diri mereka. Jika tidak ada upaya pengimbang, gerak formal agama tersebut tidak hanya berkelindan pada lokus lokal, melainkan menggeliat ke ruang yang lebih global. Kenyataan ini dapat merobek solidaritas keindonesiaan dan digantikan oleh solidaritas agama an sich. Sendi dan ranah-ranah identitas yang dibangun berdasarkan kebangsaan sewaktu-waktu akan dilelehkan oleh kekuatan identitas agama yang menggelobal, seperti beberapa indikasi yang terjadi saat ini.

Syahdan, bersyari’at sebagai wujud keyakinan kita di dunia yang kian menjadi mungil ini membutuhkan sebuah kearifan yang mendalam dari seluruh komunitas. Keberagaman ekspresi apapun bentuknya adalah sebuah kekayaan yang merupakan anugerah Tuhan yang diberikan melalui kekuatan akal budi manusia. Betapa indah jika kita beragama (baca; bersyari’at) di dunia global ini dimana kontestasi masing-masing identitas komunitas berjalan tetapi tidak mengusik, apalagi meminggirkan keberaadaan yang lain. Sangat menggugah apa yang diungkapkan Hans Kung bahwa agama akan dikatakan baik dan benar bila sejauh agama itu manusiawi. Dengan demikian bersyari’at tidak menghilangkan dan menghancurkan, tetapi melindungi dan memajukan kemanusiaan. Itulah hakikat dari beragama atau bersyari’at (maqâshid al-syarî’ah) yang sejati.[]

Iklan
IDENTITAS BERSYARI’AH DI KAMPUNG GLOBAL

3 pemikiran pada “IDENTITAS BERSYARI’AH DI KAMPUNG GLOBAL

  1. @bahul :
    Wah kabar baek kawan..bagaimana kabar kwn2 jogja ? btw, kok kita bisa kalah di kongres Batam tuh ?

    @mazarif :
    Tengkiyu atas komennya…kita bisa share lebih dalem yuk !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s