DEISLAMISASI IDENTITAS

KONSEKUENSI meyakini Islam sebagai the way of life memaksa untuk merelevansikan nilai-nilainya dalam setiap epos perubahan sejarah manusia. Ajarannya harus menemukan aktualitas dalam meruang dan mewaktu. Ketergeseran agama oleh nalar modernisme dengan sekularisasi dijadikan Islam sebagai momentum untuk bangkit ketika modernisme ditemukan boroknya. Islam tiba-tiba dimunculkan seolah memberikan jawaban atas persoalan manusia. Seluruh manusia rindu merengkuh kembali siritualitas yang pernah hilang. Rating stasiun-stasiun televisi tiba-tiba naik setelah menayangkan program yang berbau agama. Setiap tahun jamaah haji Indonesia tidak pernah surut, sekalipun lilitan ekonomi bangsa terus melorot. Lain bilik, manusia berani membantai sesama ketika agamanya diusik oleh orang yang dia anggap sebagai yang lain (the other), tapi diam seribu bahasa melihat jutaan manusia tewas karena kelaparan.

Islam kadung terlanjur diimani oleh para pemeluknya tidak hanya sebagai agama, tetapi juga menjadi satu sistem yang menyuguhkan aturan-aturan di dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Since its origin, Islam has always been not only a religion but also a definite religio-social system with thisworldly interests. Demikian ungkap Montgomerry Watt (1961). Dalam nalar yang demikian, Islam merupakan ajaran yang universal (kaffah), mencakup jawaban segala komponen persoalan manusia. Islam laiknya panacea (obat segala penyakit) bagi seluruh totalitas persoalan yang dihadapi manusia. Setiap ada persoalan, Islam akan menyelesaikannya. Demikianlah Islam yang diyakini para pemeluknya selama berabad-abad lamanya. Maka muncul kemudian, , ekonomi Islam, demokrasi Islam, dan Islam-islam lainnya. Kata Islam seolah niscaya hadir dalam bahasa ilmu pengetahuan. Jika tidak menampilkan Islam, sesuatu itu menjadi tidak Islami. Term Islami direduksi hanya sebatas simbol.

 

***

Arus globalisasi yang menyeragamkan identitas pada satu sisi dan membangkitkan kontestasi identitas lokal pada sisi lain, menggiring kerinduan manusia akan identitas “azali” mereka (Amin Maalouf : 2004). Kontestasi mengandaikan adanya ketegangan antar-identitas, yakni identitas dominan vis a vis devian. Islam yang niscayanya menjadi pendamai identitas yang bersitegang (Q.S.49:13), justru membakukan dirinya menjadi identitas baru. Islam tiba-tiba muncul dimana-mana. Perang dan pembantaian atas nama agama yang seharusnya jadi pendamai pun lebih parah dari perang atas nama bangsa/negara. Alih-alih akan memberikan solusi krisis identitas manusia, justru saat itulah agama menjadi problem. Pembakuan identitas menjadikan Islam mudah dibajak untuk melindungi segala kepentingan yang bukan kepentingan mulia agama.

Menyemayamkan Islam (agama) menjadi identitas mendorong hasrat politisasi terhadap agama. Paradigma ini secara tak sadar mengiiring diagnosa salah dalam melihat konflik agama sehingga cenderung segala kesalahan diletakkan terhadap mereka yang mempolitisir agama, tetapi luput melihat faktor yang mendorong terjadinya politisasi terhadap agama itu sendiri. Islam yang diendapkan menjadi identitas mengundang hasrat untuk dipolitisir. Tidak hanya untuk akumulasi kekuasaan di dalam Pemilu atau Pilkada tetapi juga untuk mengumpulkan kapital. Reaksi berlebihan umat Islam terhadap aliran seperti al-Qiyadah al-Islamiyah dan Komunitas Eden menunjukkan betapa mudahnya Islam dimobilisir hanya cukup dengan sedikit mengusik simbol-simbol identitasnya. Oleh karena itu, praktik politisasi terhadap Islam merupakan akibat dari memperlakukan Islam sebagai sebuah identitas.

Para aras selanjutnya pergumulan tidak hanya tejadi dalam Islam secara eksternal, tetapi juga menjadi masalah di dalam tubuh Islam sendiri. Seperti berhadap-hadapannya Islam bercorak Arab dengan Islam yang berakulturasi dengan budaya nusantara. Islam yang bercorak nusantara dengan peci dan sarungnya digerus oleh supremasi Islam yang berocrak Arab dengan surban dan jubahnya, karena Islam yang pertama tidak sesuai dengan identitas Islam. Corak yang pertama diposisikan sebagai yang salah dan menyimpang (baca; bid’ah), sementara yang pertama dianggap sebagai pemegang otentisitas Islam. Hal tersebut menunjukkan betapa Islam yang merupakan sebuah nilai moral disempitkan sebatas simbol dan identiitas.

Dalam ranah pengembangan ilmu pengetahuan, Islam yang mengidentitas tidak lagi menjadi produktif dalam menyumbangkan ilmu pengetahuan. Hampir tidak ditemukan pemikir Islam yang menyumbang kemajuan ilmu kontemporer kecuali hanya sibuk mencari pembenaran teks atas ilmu yang sudah ada. Islam pada posisi ini hanya bergerak defensif dan pasif yang hanya memberikan stempel halal atau haram terhadap sejarah dan ilmu pengetahuan. Islam berposisi bertahan serta enggan terjun langsung dan bertarung dalam pergulatan ilmu pengetahuan. Inilah yang menyebabkan Islam hanya menjadi penonton bagi perkembangan pengetahuan. Bahasa teks agama dianggap melampaui segalanya. Parahnya, ayat Tuhan hanya dipahami lembaran teks (qauliyah) an sich, tetapi tidak dalam hamparan alam semesta ini (kauniyah).

***

Menggumpalnya Islam sebagai identitas absolut berakar dari struktur keyakinan yang tidak mampu memilah sakralitas dan profanitas teks al-Qur’an. Islam mainstream cenderung melihat teks al-Qur’an mutlak sepenuhnya maksud Tuhan. Tidak ada ilmu dan kebenaran di luar al-Qur’an. Sehingga, hasil pemahaman terhadap teks yang kemudian menjadi praktik diklaim sebagai indentitas Islam yang otentik. Padahal, wahyu Tuhan yang tidak terbatas menggunakan bahasa manusia (Q.S.12: 02) yang terbatas (Q.S.17:109), karenanya teks pun menjadi terbatas. Teks terbatas dan hasil pemahaman pun terbatas. Karena pemahaman terbatas, maka praktik yang dihasilkan dari pemahaman teks tidak bisa dijadikan sebagai identitas, apalagi sebagai identitas otentik Islam. 

Oleh karena itu, Islam harus keluar dari kungkungan identitas keislaman yang kaku. Identitas Islam tidak tunggal, tidak stagnan, tidak terkatakan, dan tidak berwujud. Artinya, identitas Islam bukan bahasa atau simbol-simbol melainkan jiwa dari simbol dan bahasa tersebut. Sebagai sebuah jiwa dia tidak mengendap dalam satu ruang semata, melainkan berada dalam tiap-tiap ruang. Sebab Islam itu begitu luas, sehingga tidak bisa mengendap hanya dalam satu simbol yang kemudian dijadikan sebagai identitas. Dalam diri personal, Tuhan menyebutnya dengan taqwa, manusia membahasakannya dengan spiritualitas. Orang yang dianggap baik oleh Tuhan bukan orang yang bersurban, berjenggot, dahi hitam, atau bersarung, melainkan orang yang berjiwa mulia (baca; taqwa). Dengan demikian, sesuatu yang Islami bukan karena dia menampilkan simbol-simbol, melainkan bersikap rahmat dan menyayangi hidup dan kehidupan. Itulah esensi Islam sebagai petunjuk manusia (hudan li al-nass).

Iklan
DEISLAMISASI IDENTITAS

2 pemikiran pada “DEISLAMISASI IDENTITAS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s