MENUNDA KESENANGAN

“Saya titip satu hal mas kalau di Jakarta, tolong jaga amanah, jujur, dan tekun”. Kata pak sopir itu sambil menyetir taksinya yang saya tumpangi waktu menuju stasiun.

Sembari melihat jalan yang lebih banyak dipenuhi pengendara sepeda motor daripada mobil, pak sopir melanjutkan perkataannya.

“Kalau itu dipegang, saya yakin dimana pun anda berada, pasti akan sukses.”. Ujar park sopir itu mantap tapi lembut seperti seorang ayah yang menasihati anaknya.


PESAN pak sopir itu masih terus terngiang di telinga saya meski kereta api Yogya-Jakarta sudah jauh meninggalkan Kota Gudeg itu. Pesan itu dilontarkan satu bulan lalu saat saya main-main ke Yogya, tapi itu seolah menempel kuat dijidatku hingga kini. “Titipan” itu sangat berarti bagiku yang sedang melanjutkan “pertarungan hidup” ke Jakarta sebelum kembali ke kampung halamanku kelak.

Sebenarnya tidak banyak nasihat yang disampaikan pak sopir; Amanah, Jujur, dan Tekun, itu saja. Tapi, bagi saya bukan main susahnya untuk menjalankannya. Amanah atau bertanggung jawab dalam memegang segala urusan/sesuatu sama susahnya seperti mendaki gunung yang terjal, curam, dan berbadai.

Bersikap jujur ditengah dunia yang menggandrungi kemunafikan dan menonjolkan kebohongan juga tidak kalah getirnya untuk dijalankan sebagai sistem laku diri saya dalam keseharian. Ditengah sistem kebohongan, kejujuran dianggap sikap lugu kampungan dan benalu pergaulan. Memegang kejujuran di zaman ini berarti menantang arus deras kebohongan/artifisialitas yang sewaktu-waktu siap menyeret kita ke jurang curam.


Benar kemudian titipan ketiga dari pak sopir; Tekun. Dengan ketekunanlah rintangan dalam memegang amanah dan berlaku jujur akan menjadi mudah dijalankan. Tetapi, membangun ketekunan membutuhkan banyak pengorbanan; waktu, tenaga, dan pikiran. karenanya, membangun diri yang tekun harus disokong oleh ketekunan yang berlapis pula.

Saya termenung sejenak, “Betapa berat titipan pak Sopir itu”. Untuk mewujudkan itu semua, maka saya harus berani untuk menunda kesenangan saya untuk mencapai kesenangan yang lebih besar di kemudian haru, seperti para pencinta Tuhan yang menunda kesenangannya dengan beribadah sepenuh hati demi kebahagiaan setelah mati.

Atau, seperti para pejuang pembela keadilan yang menunda kesenangannya untuk melawan segala kezaliman (korupsi) dan ketidakadilan demi kesenangan anak cucunya kelak.

“Mampukah saya menunda kesenangan itu ?,” saya bertanya dalam hati. “Entahlah…”

Iklan
MENUNDA KESENANGAN

43 pemikiran pada “MENUNDA KESENANGAN

  1. khofia berkata:

    pertamax?
    jadi inget pas di hari terakhir saya di Jogja sebelum hijrah di Jakarta…
    Ibu saya pesen macem2, tapi yang paling beliau tekankan adalah masalah ibadah…

    *jadi pengen pulang kampung lagi*

  2. artikelnya menarik banget mas…
    emang dasarnya amanah, jujur dan tekun itu kunci keberhasilan.
    coba saja salah satunya aja kita jaga, pasti deh insyaAllah kita berhasil.

  3. Dikenal 3 garis bersar amanah yaitu
    1. Amanah Terhadap Allah Dan Rasul,
    2. Amanah Terhadap Diri Sendiri
    3. Amanah Terhadap Masyarakat Dan Perkhidmatan jangankan
    Bagi saya Tidak mudah melakukan ke3nya, jangan kan point 1&3
    point 2 aja masih gak yakin… Benar ya memang diprlukan Kejujuran dan Ketekunan serta kesabaran yang tiada batas untuk menjalaninya. Semoga kita diberi kesanggupan tuk menjalaninya/melaksanakannya, amien

  4. bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian :)

    yang semangat om hilman..!

    orang jujur, amanah, dan tekun Insya Allah ngga ada ruginya.. :)
    *sok tau bgt gw..*

  5. Ly berkata:

    Menunda Kesenangaaan….?? hikzz…. pengen nangis dulu deehh…. :( :(
    hidup di jakarta hampir 28 thn …. lom bisa menghasilkan sesuatu yang berarti ….. *bengong di pojokan*

    OMG…. i’m so sorry…. *hikz…hikz….* :(

  6. Semoga setiap keletihan, ketekunan, kesabaran, keringat yg mengucur oleh sebab usaha untuk tetap berada di jalan yg sesuai aturan-Nya tidak akan disia-siakan oleh-Nya kelak…amiin.

    Salam silaturrahim dari Batam,

    Wassalam,
    Rozy

  7. aku termasuk orang yang suka mengeluh… kamu tau itu kan? hehe.
    tp sekarang q mulai belajar tuk menunda kesenangan dan tidak mengeluh lho… hehe

    semoga kesenangan itu lekas tiba man…. amin

  8. ilyas berkata:

    menunda kesenangan……..
    salut ma mas hilman…………menunda kesenangan bukan sebuah kegagalan dalam perjalanan hidup….selamat berjuang, sekamat mencapai kebahagian esok…, bahagia untuk hmi

  9. waa…mantap mas..benar-benar membuka cakrawala berpikir saiah…emang bener banget apa yang mas bilang,,semuanya ntu gak gampang untuk dilakuin…apalagi jujur diantara kebohongan yang udah mendarah daging…hmmm…*geleng2 kepala,,*

    btw,,blognya saiah link yah,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s