MENDADAK POLITISI

KEKUASAAN mengandung daya pikat yang luar biasa. Di dalamnya tidak hanya menyipan harta, tetapi juga kedigjayaan dan prestise. Seperti sistem yang menelusup ke ruang bawah sadar, semua entitas seolah dipaksa untuk masuk dan terlibat di dalamnya. Itulah yang saat ini kita saksikan dalam pentas politik nasional dimana semua kalangan berbondong-bondong masuk ke dunia politik, dari kalangan intelektual, ulama, pengusaha, hingga para selebriti. Semuanya mendadak politisi.

Keterlibatan kalangan selebriti yang berbondong-bondong terjun ke dunia politik memunculkan beragam tanggapan di masyarakat. Beberapa analis melemparkan nada sinis terhadap para selebriti yang mendadak memainkan peran politisi di panggung politik nasional yang jauh berbeda dengan dunia peran mereka di sinetron dan ketoprak. Demikian juga menyeruak keraguan terhadap para intelektual atas kemampuan mereka melawan sistem laku politik beringas di negeri ini jika terjun berpolitik.

Terlepas dari perdebatan di atas, kenyataan tersebut harus dilihat sebagai trend baru di dunia politik kita sebagai akibat dari gerak dominan model reformasi dan demokrasi yang berwajah electoral oriented. Gerak dominan demokrasi elektoral yang membawa pembaruan-pembaruan dalam perekrutan pemimpin membawa dampak pada pergeseran konfigurasi politik, baik di tingkat elite maupun pada level grass root. Akhirnya tidak dapat dihindari, perilaku politik elite mengalami pemuaian yang kadangkala berada di luar prediksi.

Partisipasi politik yang ditandai dengan bermunculannya politisi-politisi dadakan dari kalangan artis, akademisi, dan pengusaha menarik dicermati. Fenomena ini tentu tidak pernah terjadi pada era sebelumnya dimana pejabat birokrasi hanya didaulat cukup melalui kuasa jari telunjuk para penguasa dari pemilihan kepala desa, bupati hingga presiden. Rakyat tidak mendapat kuasa apapun untuk menentukan siapa pemimpinnya, karena dibungkam oleh sistem feodal otoritarian dari penguasa selama puluhan tahun.

Ketika kran yang terkatup rapat itu terbuka, maka euphoria politik tidak terelakkan. Ruang merebut negara menjadi terbuka, karena poros kuasa bergeser dari penguasa feodal-otoritarian yang introvet ke tangan rakyat yang ekstrovet. Pemimpin tidak lagi ditentukan oleh telunjuk jari penguasa tetapi bergantung pada tangan rakyat. Angin perubahan itulah yang perlu digarisbawahi yang membawa dampak pada perubahan konfigurasi dan perilaku politik kita. Dus, wajar jika semua kalangan kini terjangkit sindrom mendadak politisi.

Kendati demikian, prasyarat demokrasi harus dibangun dalam logika ekuilebriumitas politik yang stabil dan terkonsolidir. Yakni, bergerak pada keseimbangan antara elite dengan rakyat untuk mewujudkan tatanan politik baru yang benar-benar membawa kesejahteraan bagi rakyat seutuhnya. Ketika spirit ekuilebrium itu tidak berada dalam rotasi yang berimbang dan memberikan dampak pada pemelaratan rakyat, maka sistem dan perilaku politik itu perlu dikoreksi, bila perlu didekonstruksi secara total.

Fenomena mendadak politisi akhir-akhir ini justru berbading terbalik dengan tatanan yang seimbang di atas. Geliat mendadak politisi merupakan bentuk kelatahan atas kondisi pergeseran politik yang terjadi pada level elite demi memenuhi kepuasan personal. Ketidakseimbangan pun menganga ketika libido kuasa kalangan menengah (baca; artis, pengusaha, dll) untuk menduduki jabatan publik tidak berbanding lurus dengan mimpi rakyat untuk memperoleh kesejahteraan dan lepas dari kemiskinan.

Oleh karena itu, harus ada rekayasa untuk menyeimbangkan libido elite dalam merebut kekuasaan dalam fenomena mendadak politisi saat ini dengan mimpi rakyat akan tatanan negara yang benar-benar memikirkan nasib wong cilik.  Kejomplangan ini tidak hanya akan menciptakan tatanan politik distrust antara state dan society dalam memagari kepentingan rakyat, tetapi juga akan berdampak pada bangunan political state yang rapuh dan mudah goyah akibat kesenjangan kepentingan.

Kalangan elite yang ingin menjadi pejabat publik harus bergerak visioner sesuai dengan semangat dan mimpi rakyat, bukan untuk menyalurkan hasrat dan kepentingan pribadi. Ketika itu terwujud, kelak state akan dapat berfungsi maksimal dan tidak lagi berada pada posisi oposisi dengan society-nya.  Pertanyaannya kemudian, mungkinkah elite dan kalangan menengah yang berselebrasi politik mengiklankan diri sebagai sosok ideal pemimpin bangsa berorientasi mewujudkan mimpi kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya ?.

Rakyat bawah yang meskipun dianggap bodoh dan miskin tidak selamanya akan menjadi penonton yang mudah terbuai. Merekalah yang mampu membahasakan siapa pemimpin yang layak dipercaya menjadi penyambung lidah mereka. Semoga saja. []

Iklan
MENDADAK POLITISI

6 pemikiran pada “MENDADAK POLITISI

  1. wahh,,iya,,artist jaman sekarang udah mulai merambah dunia politik.. ya paling ini juga strategi partai biar bisa menarik aspirasi publik..tapi teteup aja ada udang dibalik batu ni..

  2. Ly berkata:

    yach u/ sekarang artis² mendadak politisi kayak sakit cacar hueuue…. satu naekk… yang lain ikutaaan halaahh!
    mending kalau bener² memahami bidang pekerjaannya kalau gak…??
    tunggu aja kehancurannya :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s