WABAH POLITIK SIMULAKRA

HIRUK-pikuk perhelatan politik 2009 sudah terasa. Wacana dan propaganda politik mulai merasuki sendi-sendi ruang informasi keseharian; di warung, pasar, stasiun, dan bahkan di ruang keluarga sekalipun. Tidak hanya di jalan-jalan, para politisi mulai menghadirkan diri mereka melalui media-media massa. Sebuah trend kampanye politik yang mulai berkembang dimana media informasi menjadi medium untuk menampilkan citra (image), pesan, dan propaganda baru kepada masyarakat. Media menjadi pusat produksi citra politik yang diharapkan mampu memengaruhi pemilih.

Media menjadi kekuatan baru pada abad ini. Melalui tanda-tanda yang disebarkannya, media mampu melipat dunia yang demikian luas menjadi desa global yang mungil (the global village). Denis McQuail dalam Mass Communication Theory-nya pernah menulis bahwa media merupakan pembentuk opini dan pengetahuan yang tidak dapat dihindari dalam masyarakat modern. Perkembangan dunia komunikasi dan teknologi tidak hanya, apa yang dikatakan Marshal McLuhan maupun Baudrillard, mengaburkan medium dan pesan, tetapi juga mampu membangun realitas palsu di atas realitas yang sebenarnya. Inilah kekuatan media yang selalu diburu.

Para politisi membangun kampanye politik yang tidak jarang – untuk tidak mengatakan acapkali – berbeda dengan fakta diri mereka yang sebenarnya. Melalui kekuatan citra media para politisi hendak tampil sempurna dihadapan publik meski citra media tersebut berbeda dengan sosok sejati politisi. Seorang yang dahulunya dikenal sebagai sosok yang jauh dari simbol dan perilaku ke-santri-an, tiba-tiba hadir di media dengan wajah yang penuh dengan citra negarawan yang religius. Sosok yang dahulunya dikenal kasar, justru menampilkan wajah dan citra yang humanis. Sebuah ”realitas” yang berbeda dari realitas yang sebenarnya.

 Propaganda politik yang di atas itulah yang kemudian disebut simulasi atau diistilahkan Jean Baudrillard dan Umberto Eco sebagai simulakra (simulacrum). Simulakra hadir sebagai realitas “jiplakan” yang sepenuhnya tidak merepresentasikan kenyataan yang sesungguhnya. Dalam kata lain, simulakra adalah bentuk dari representasi realitas yang menipu (false representation), dikonstruk secara instan untuk menghadirkan citra baru dalam diri objek yang dijadikan sebagai pusat citra. Pada level ini, realitas atau fakta yang sebenarnya menjadi tidak penting, karena sengaja dieliminasi dan dikebiri oleh citra pesan yang dihadirkan melalui iklan-iklan politik media tersebut.

   Oleh karena itu, tidak heran jika para tokoh yang dahulunya dikenal keras dan militeristik secara instan tampil dalam iklan politiknya menjadi sosok yang humanis. Partai yang melekat dengan citra abangan berusaha menampilkan dimensi santri, menyematkan titel haji/hajjah sebagai bagian dari identitasnya. Ada juga yang menyuguhkan citra populis, padahal dalam sepak terjang ekonomi-politiknya meyakini sistem neoliberal sebagai yang terbaik. Akhirnya apa yang dikritik oleh Katz (1960) benar-benar terjadi bahwa individu atau massa dianggap sebagai objek propaganda dan penipuan.

Gerak politik simulakra tersebut membawa ekses pendangkalan yang menjadi cermin sistem politik menipu kita. Kondisi masyarakat yang permisif dan daya memorinya yang pendek terhadap rekam sejarah membawa gaya politik simulakra menjadi efektif dan kian mewabah. Kenyataan ini semakin menyedihkan ketika ditambah dengan kemiskinan ideologi yang dimiliki para politisi dan partai-partai yang ada, sehingga konten propaganda pun cenderung pragmatis dan jauh dari membumi. Akhirnya, yang membedakan iklan politik figur/partai satu dengan yang lainnya hanya kemasan an sich, bukan program dan platform-nya.

 

Membendung?

Wabah dan gaya politik simulakra yang cenderung menyuguhkan false representation daripada true representation harus dibendung karena hanya akan membawa pendangkalan dalam masyarakat di semua aspek. Kelompok-kelompok yang memiliki kesadaran dan daya rekam yang kuat atas biografi para politisi, harus memberikan pemahaman kepada rakyat agar mereka dapat memosisikan para calon pemimpin mereka secara kritis. Mendesak negara untuk mengungkapkan dosa hukum para politisi yang terlibat korupsi, kolusi, kejahatan kemanusiaan, dan lainnya dapat juga menjadi kekuatan penyeimbang.

Kondisi masyarakat yang permisif, mudah lupa, dan pragmatis menjadi tantangan tersendiri dalam membendung gaya politik simulakra para politisi kita. Kondisi tersebut juga didukung oleh pandangan dunia politik rakyat yang cenderung irasional, paternalistik, primordialistik dan kharismatik sehingga sakralisasi figur acapkali muncul. Kesalahan figur kemudian diabaikan ketika mereka merupakan bagian dari kelompok kita yang justru menjadi sasaran empuk gaya politik simulakra.

Sementara itu, mengharapkan munculnya kesadaran langsung para politisi ibarat menggarami air laut, sia-sia belaka. Meskipun demikian para politisi tetap memikul tanggung jawab moral kepada rakyat untuk menampilkan kampanye diri yang tidak bertolak belakang dengan kenyataan diri mereka yang sebenarnya. Sudah seharusnya gaya kampanye dan iklan yang bervisi mencerdaskan dipraktikkan dihadapan publik bukan lantas dengan cara membodohi dan menipu rakyat dengan tanda dan simbol-simbol citra yang palsu. Sudah cukup rakyat dibodohi lewat sinetron dan iklan produk. Jika para pemimpin juga turut membodohi, lantas siapa yang mau mencerdaskan mereka?.[]

Iklan
WABAH POLITIK SIMULAKRA

10 pemikiran pada “WABAH POLITIK SIMULAKRA

  1. Naja berkata:

    Sangat setuju.Para politisi yg tak b’moral,hnya memikirkan keuntungan,kepentingan pribadi.Dan hanya menganggap rakyat sbg boneka2 menggiurkan untuk meraup keuntungan.

  2. Naja magelang berkata:

    Sangat setuju.Para politisi yg tak b’moral,hnya memikirkan keuntungan,kepentingan pribadi.Dan hanya menganggap rakyat sbg boneka2 menggiurkan untuk meraup keuntungan.

  3. Salam semuanya…akhirnya ke balas juga comennya

    @ anwar
    amiiinnn, semoga harapan itu bukan mimpi ya..
    @ redesya
    aku ikut setuju juga..tp jgn2 ntar malah kita suatu saat kena juga virus politik itu…kali aja ada partai yg ngelamar..he

    @ hanggadamai
    kang hangga, bagaimana kabar ?. bagaimana bisa maju kang, klo scr bersamaan hal menyedihkan jugater jadi… :)

    @ astridsavitri
    katanya sih mbak vit, yag kekal itu hanya perubahan..

    @ naja
    naja berapi-api…aku setuju banget..

    @ ario saja
    jelas salah lah, yg bener aku simpatisan anti-parpol…calon independen aja..hehe

    @ ly
    kalo nggak kezam, bukan politik dong…benar gak ya ??

    @ langitjiwa
    iya, aku juga lama sekali tdk berkunjung ke blogmu yg menyejukkan dg kata-kata yg indah..lamooo niaann…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s