TAWA YANG TAK MENGHAPUS LUKA

orang-miskin2

DITENGAH keletihan karena seharian bergelut dengan apa yang sering orang sebut sebagai ilmu pengetahuan — meski hingga kini aku belum mampu menjawab secara konsisten untuk apa aku mati-matian mencarinya –, dipinggir jalan terlihat seorang anak bercengkrama dengan ayahnya. Di pinggir trotoar ruko sebuah jalan di daerah yang bersebelahan dengan kawasan elite Menteng. Berharta sebuah gerobak pengangkut rongsokan di sisi mereka.

Canda antara bocah dan ayah begitu lepas. Tawa cekikikan si bocah terdengar lucu dan menggemaskan. Sebuah dunia di antara mereka yang sama sekali berbeda. Si anak yang kira-kira berusia dua tahun melihat dunia apa adanya, lucu, dan penuh keceriaan. Tidak pernah berfikir dalam benaknya jika dunia yang di sekelilingnya digerakkan oleh sistem yang tidak menghendaki mereka ada dengan tawa.

Si Ayah berbeda. Tawa yang dia suguhkan kepada bocahnya hanya bungkus agar si bocah tidak mengetahui kehidupan yang sebenarnya. Anak sekecil itu belum saatnya tahu betapa para pemimpin dan kaum terpelajar terkerangkeng oleh sistem yang menghisap nasib mereka. Tawa sang Ayah hanya ingin menyembunyikan jeritan hatinya bahwa “nak, kita tidur di trotoar tanpa dinding, beratap langit, dan disapu dinginnya angin malam jalanan yang kotor.”

Rumahnya adalah seluruh trotoar yang ada di Jakarta. Itupun hanya trotoar pinggir ruko yang masih membolehkan sampah-sampah berserakan. Karena trotoar di ruko-ruko mega besar (mall, hypermarket,dll), jangankan gerobaknya yang peot, melihat wajah compeng badannya yang kotor dan dekil saja, para satgas negara akan siap mengobrak-abrik mereka. Tawa yang tak menghapus luka.

Iklan
TAWA YANG TAK MENGHAPUS LUKA

9 pemikiran pada “TAWA YANG TAK MENGHAPUS LUKA

  1. yas berkata:

    hidup dalam kehampaan. kesejahteraan, kenyamanan, kebahagiaa, di cut oleh sistem membuat masa depan menjadi tidak jelas bahkan kosong. “zaman ini memang zaman edan” demikian ronggo warsito mengeluh

  2. vitzone berkata:

    Jadi ingat sbuah lirik lagu yang dinyanyikan franky sahilatua ; …sedangkan burung-burung membangun sarang anaknya,sedangkan gunung-gunung memelihara hutannya…

    Mengapa manusia belum bisa lebih baik dari mereka,,

  3. Serli oktavin belen berkata:

    Aku baca cerita ini,aku sedih sekali, begitu lah hidup di kota susah mau pun senang kita tanggung sindiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s