Tentang Angkatan, Lagi

DALAM suatu kesempatan, ditengah kelonggaran waktu, aku tanpa sadar kembali membuka lembaran tulisan salah satu sastrawan kebanggaan negeri ini. Membaca refleksi penting tentang sebuah angkatan — atau mungkin menurutku disebut generasi. Berkali-kali aku merenungi, bermimpi, dan membangun kurva kenyataan yang ideal saat ini, meski dalam imaji. Tentang, yang dimaksud oleh Pramoedya Ananta Toer di atas sebagai, angakatan :

Tiap masa membawa angkatannya. Dan angkatan ini bernama atau tidak, adalah tergantung pada banyak sedikit, kuat lembeknya kontras-kontras yang ada dalam masyarakat itu sendiri. Penamaan pada sesuatu angkatan adalah suatu ketegasan. Lebih dari itu: suatu tantangan……

Tiap angkatan punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing, yang mana kekuatannya merupakan daya hidupnya. Kemudian kelemahannya adalah mautnya sendiri. Kelemahan suatu angkatan pada masanya biasanya tidak diinsyafi sendiri olehnya. Soraksorai terlalu riuh sehingga orang tak sempat mengoreksi diri, dan kematian segera datang sebelum sempat orang melakukannya. Kematian ini selamanya dimulai dengan datangnya angkatan baru. Dia yang mengoreksi.

Tentu saja dapat dua angkatan menyumbang ciptaan pada masyarakatnya dalam kurun waktu yang sama. Tetapi ini tidak akan sama mengenai isi, nilai, atau pun teknik serta keadaan seluruhnya…..

…..Kematian suatu angkatan sebenarnya telah dimulai sejak angkatan itu lahir. Kematian ini bersarang dalam kelemahannya….angkatan baru mencoba mengisi kelemahan itu dengan kekuatannya….

(Pramoedya Ananta Toer, Tentang Angkatan (Copyright 1952, L & F Acy DUTA)).

Apa yang ditulis Pram di atas seolah hidup dan bersuara aktual dihadapan kondisi saat ini. Meski jasadnya mugkin sudah menyatu dengan tanah. Tetapi ruh tulisannya menyatu dengan detak zaman. Yah, sebuah zaman yang terus membutuhkan koreksi yang mendalam dan mengharapkan munculnya sebuah angkatan baru yang cemerlang. Tidak hanya zaman. Bagi sebuah negara yang kita pijak saat ini pun. Butuh sang ”dia yang mengoreksi” itu.

Dimana aku, anda, dan kita berada ? Pada angkatan apakah ? Generasi yang manakah ? Nama apakah yang pas untuk menyebut posisi angkatan mana yang kita pijak, sebagai individu atau kolektif, untuk menyebutkan ketegasan dan tantangan itu ?

Angkatan 45 kah ? angkatan penipu ? angkatan penjilat ? agkatan pemalas ?. Aku mungkin masuk dalam angkatan yang mati, bersarang dalam kelemahannya…

Sahardjo, 04 Desember 2008

Iklan
Tentang Angkatan, Lagi

15 pemikiran pada “Tentang Angkatan, Lagi

  1. Fa berkata:

    Mungkin aku pun juga masuk dalam angkatan yang mati, ketakutan atas kelemahan yang kusadari membayangiku. Menyadari begitu banyak yang belum mampu kuberikan untuk bumiku. Tapi jika jalan hidup membawa kita ke kanal yang datar, dan menerima apa adanya aliran yang kini terhenti, lantas apa yang akan terjadi?
    Tulisan2 Pram yang magis terkadang membantu kita untuk merefleksikan kembali apa makna hidup. Untuk bertanya pada nurani, sampai dimana kita mengalir..

    Salam

  2. Terus terang saya kurang suka digolongkan pada angkatan manapun… karena menurut saya dengan menggolong golongkan seperti ini, bisa mengkerdilkan pemikirankita… cara pandangan kita… ingat angkatan Orba, angkatan 66, angkatan 45 dan segala angkatan angkatan lainya..?! mereka membentuk lingkaran sendiri tanpa disadari… setelah masa keemasan angkatan mereka berahir… kemudian tanpa “malu” mereka “berubah kulit” menjadi angkatan reformasi… inikah yang Kita mau…?! sebaiknya kita sebagai Bangsa Indonesia Bersatu tanpa memandang batas Usia.. Golongan… Suku… maupun Agama… mari bersatu membangun Indonesia tercinta ini… sesuai dengan kemampuan kita masing masing…..

  3. eh angkatan2 itukan yang memberi generasi setelahnya
    sangat ga etis jika kita memberi nama pada angkatan kita sendiri

    kayaknya generasi ini lebih tepat jika disebut angkatang selangkangan..
    *lirik novel2 ayu utami, jenar dll

  4. Agus Wibowo berkata:

    slamat tulisan antum di SK hari ini, smoga “antum” semakin kreatif……….(kalau pakai bahasa arab khan seperti orang arab heeee,,,,he )

  5. Pak Hilman, Tolong disebarkan
    Pendekatan dan cara untuk menggelar dialog dan kerjasama agama-agama tak selamanya berjalan mulus. Disana-sini ditemukan hambatan-hambatan yang cukup signifikan. Penyebabnya pun kian tak tunggal, mulai dari sikap mendua kitab suci (the ambivalence of the sacred), tafsir eksklusif terhadapnya sampai pada faktor-faktor non agama seperti politik, sosial, budaya. Karena hambatan-hambatan tersebut, banyak tokoh yang berpendirian bahwa hanya dalam ruang tasawuf (mysticism)-lah, titik temu, kerjasama dan dialog agama-agama bisa dilangsungkan dengan baik.
    Dalam konteks inilah, buku When Mystic Masters Meet karya Syafa’atun, Ph.D ini., menjadi sangat penting. Buku ini membahas dua mistikus besar abad Pertengahan dalam Kristen dan Islam, yaitu Meister Eckhart dan Muhyi al-Din Ibn al-‘Arabi. Dua tokoh ini bagi penikmat mysticism cukup akrab. Dua tokoh ini disamping kontroversi, ternyata memiliki ketajaman visi yang mampu memperluas, memperbaharui, merekonstruksi pandangan-pandangan teologis yang telah mapan. Akhirnya karya Ibn al-`Arabi dan Meister Eckhart juga sangat berakar pada kitab suci kanonik sehingga pada saat tertentu mereka seolah menulis komentar atau tafsir terhadap al-Qur’an dan Bible.
    Karena itu, jangan lewatkan acara Launching dan Bedah Buku When Mystic Masters Meet; Paradigma Baru Hubungan Umat Kristen-Muslim, yang sebelumnya diawali dengan pemutaran film The Mystic’s Journey (Producer Huston Smith) pada Kamis, 19 Februari 2009 di Lantai 5 Gedung Pascasarjana Universitas Gadjah Mada yang dilaksanakan oleh Religious Issues Forum (Relief) Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM. Contact Person: 08174121513 (Hatim Gazali)

    Panitia
    Hatim Gazali
    * Mohon disebarkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s