MEDIA DAN REGULASI BANGSA

Oleh Agus Hilman
Dimuat: Jawa Pos, 28 Juli 2011 dan Padang Ekspres

AKHIR-AKHIR ini, media sering dituding berada di posisi yang salah. Serangan itu tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga mulai muncul dari penguasa. Penguasa mulai bersuara mengambinghitamkan media ketika gerak media dirasa mengancam kekuasaannya (state regulation). Protes rakyat pun tidak kalah membahana ketika poros media lebih dominan tunduk pada pasar (market regulation).

Di sinilah, penulis akan mendiskusikan peran media yang demikian penting dan vital di tengah kebebasan informasi yang masih menyisakan dilema. Denis McQuail sangat meyakini peran besar media sebagai mesin citra pada abad modern. Media bukan sekadar jejaring mesin yang memberikan kabar dan berita kepada khalayak semata, tapi juga mampu mengontrol serta mengarahkan pikiran publik.

Dengan suguhan pesan yang disampaikan media, masyarakat mencernanya sebagai pesan apa adanya, tanpa tendensi, sam pai membangun zona pengetahuan baru. Itulah alasan McQuail menegaskan media sebagai mesin pembentuk opini dan pengetahuan pada abad ini.

Di Indonesia, keterbukaan media dan informasi tidak hanya memberikan ruang besar bagi kebebasan publik, tapi juga kebebasan media. Ranah kebebasan bagi media merupakan salah satu capaian era reformasi yang paling dirasakan. Pada masa Orba, media di kanalkan menjadi satu melalui legitimasi dan otoritas negara. Media-media pelat merah tersebut menyebarkan berita-berita untuk menopang kekuasaan pemerintahan Orde Baru. Tepatnya, menurut istilah Athusser, media menjadi manifestasi ideological state apparatus pemerintahan Soeharto.

Ketika era keterbukaan itu sedang berlangsung, media bergerak bebas, namun tidak berarti tanpa muara dan sentrum. Keruntuhan tangan negara membuka jeruji yang memenjarakan kebebasan, mendorong terjadinya pergeseran sentrum di dalam tubuh media. Negara tidak lagi memainkan peran strategis, melainkan hanya berpartisipasi dalam menjamin ketersediaan ruang kebebasan melalui regulasi serta kekuatan legitimasinya.

Hal itu terlihat dalam upaya negara mengeluarkan undang-undang yang mencoba mengontrol kebebasan media.
Dilema State-Market Pascareformasi, pergeseran media berada dalam dua sentrum, yakni kekuatan modal dan relasi kuasa. Pergeseran itu beralih dari kuasa negara ke arus sentrum modal dengan menguatnya industrialisasi media. Di sinilah, perangai media bergeser dari mesin ideologi negara (istilah Althusser, ideological state apparatus) ke ruang kompetisi pasar. Logikanya pun beralih, tidak lagi mengawal kepentingan negara dan penguasa, tapi mengawal kepen ti ngan akumulasi modal yang sebanyak-banyaknya.

Nalar media sebagai bisnis pun kian menggurita. Kiblat akumulasi modal media menggerakkan aktivitas media ke arah komersialisasi. Kualitas program kemudian tereduksi sejauh mana program tersebut mencapai rate dan share yang tinggi sebagai syarat untuk meraup keuntungan, sedangkan nilai dan efek pesan tidak lagi menjadi penting. Walhasil, media pun bergerak liar dan berubah menjadi mesin ideologi pasar yang konsumtif. Pemberintaan video mesum artis yang menghebohkan sebulan penuh menjadi contoh betapa ideologi pasar itu begitu kuat karena mendatangkan rate dan share yang tinggi.

Media tidak lagi beragam, melainkan bergerak dalam warna yang seragam dalam akumulasi kapital. Pada masa Orba, media terbelah ke dalam dua wajah, sebagai ”oposisi” atau bagian dari pelindung negara. Kompetisi dan pertarungannya sangat ideologis. Tapi, pascarefromasi, media berlomba-lomba dalam satu semangat komersialisasi, ajang untuk mendongkrak keuntungan sebanyak-banyaknya melalui industrialisasi berita. Karena itu, nilai ideologis berita acap tereduksi oleh neraca akumulasi keuntungan dan nalar bisnis.

Nalar kapitalisasi media tidak jarang melabrak fondasi etika yang sudah terbangun di tengah masyarakat. Dengan kebebasan, media yang diharapkan mam pu memperkuat karakter dan fondasi kebangsaan terjungkirbalikkan menjadikan media sebagai sarana mengeroposkan etika bangsa. Peran dan tugas mulia media terabaikan karena etika kebangsaan ditelakkan di bawah kepentingan bisnis.

Kekuatan media akan mengerikan ke tika zona bisnis yang demikian kuat di dukung masuknya kepentingan-kepentingan untuk menguasai politik negara. Di sinilah kekuatan bisnis media bersenyawa dengan kekuatan politik berlangsung. Media tidak hanya menjadi alat akumulasi kapital, tapi juga menjadi alat kontestasi kekuasaan.

Media benar-benar menjadi alat konstruksi opini sebagaimana keyakinan McQuail tersebut ketika kekuatan pengusaha dan penguasa besenyawa menggerakkan media.

Segala pesan yang disampaikan kepada masyarakat berubah menjadi bungkus yang menyembunyikan sekian kepentingan, baik kepentingan modal maupun kepentingan kekuasaan.

Akibatnya, sangat jarang spirit edukasi menggelayuti napas dunia media, kecuali pertarungan penanda dan pertanda untuk modal serta kekuasaan. Penanda dan pertanda tersebut disuguh kan melalui berita-berita dan program lainnya. Itulah yang kita saksikan akhir-akhir ini yang mulai ditunjukkan secara vulgar di hadapan publik.

Nation Apparatus Mengharapkan negara kembali mengontrol media tentu tidak mungkin. Membiarkan media bergerak liar pun tidak dapat dibenarkan. Karena itu, dibutuhkan entitas-entitas independen yang kuat untuk mengontrol (bukan mengendalikan) gerak media. Selama ini, entitas formal belum maksimal melakukan kontrol kuat terhadap media. Sementara itu, mengharapkan civil society juga tidak cukup tenaga untuk menghadangnya. Diperlukan keberpihakan nilai untuk menyokong daya kontrol terhadap media.

Tapi, yang lebih penting dari itu, diperlukan kesadaran tulus bagi penggerak media agar memainkan fungsinya sebagai alat penguat kebangsaan (ideological nation apparatus).

Media harus tunduk pada regulasi bangsa (nation regulation), tidak lantas semakin mencabik dan meruntuhkan fondasi bangsa. Peran tersebut sangat dinanti di tengah kecamuk nasionalisme dan rasa persatuan yang rapuh di Indonesia. Daya konstruksi pengetahuan media sejatinya diarahkan untuk mengonstruksi penguatan spirit ke bangsaan, sehingga bangsa kita tidak runtuh oleh anak bangsa sendiri. (*)

Iklan
MEDIA DAN REGULASI BANGSA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s