Memutus Sumbu Kekerasan

Dimuat Suara Karya, 10 Februari 2011

“Kekerasan itu mudah menular,
berjangkit bagai wabah penyakit.” (Sindhunata)

Kekerasan begitu akrab dengan praktik kehidupan berbangsa kita. Seakan tidak ada bahasa ‘damai’ yang terselip. Mulai dari ranah domestik hingga ke ruang publik, kekerasan tidak pernah luput mewarnai kehidupan bernegara kita, entah itu di ruang budaya, agama, maupun politik. Kekerasan seakan sebuah laku yang inheren dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang terus mengintai siapa pun untuk menjadi korbannya.

Baru-baru ini, mengemuka aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Esok, bisa jadi saya atau Anda yang akan menjadi korban kegasanan tindakan kekerasan selanjutnya. Tentu, bahasa keprihatinan pemimpin ketika menyaksikan bahasa kekerasan yang terus dipraktikkan di negeri ini tidak mungkin menghela praktik kekerasan. Ketika sikap pembiaran terhadap kekerasan dilestarikan, ancaman kekerasan di ranah lain pun semakin terbuka lebar.

Gustave Le Bon (1896) menganalisa kekerasan kolektif semacam itu sebagai bentuk tindakan replikatif dari hubungan antara irasionalitas, emosionalitas, dan peniruan individu. Di dalam kelompok terjadi resiprokalitas tindakan tiruan di antara anggota yang dapat memperkuat dan memperbesar emosionalitas dan irasionalitas sesamanya.

Kekerasan-kekerasan yang terus-menerus dilakukan, seperti insiden kekerasan massa berlatar belakang agama dalam kasus penyerangan kelompok Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, (6/2); dan kasus perusakan rumah ibadah, sekolah serta fasilitas umum di Temanggung, Jateng (7/2), dapat dilihat sebagai daur ulang tindakan (tiruan) anggota atau tokoh kelompok tersebut.

Karenanya, perilaku kekerasan pada dasarnya tidak menjalar secara personal, tetapi acapkali menelusup dalam kerumunan komunal. Manakala ini terjadi, maka perilaku kekerasan sudah bergerak secara institusi yang sangat berbahaya. Institusionalisasi kekerasan pun akan semakin beringas jika kemudian berelasi dengan ruang kekuasaan. Sikap pembiaran aparat keamanan terhadap beberapa kekerasan massa mendatangkan curiga bahwa kekerasan tidak steril dari kekuasaan.

Kekerasan acapkali terjadi ketika kebenaran diklaim secara tunggal dan sepihak. Klaim absolut atas kebenaran mencuat karena kebenaran dilihat dalam kacamata tunggal yang memunculkan persoalan ketika berbenturan dengan mileu kebenaran di luar yang diyakini. Saat inilah, kebenaran telah dijadikan sebagai seperangkat yang mutlak.

Hasrat Kekuasaan

Absoludisasi kebenaran salah satunya karena dianggap memiliki dimensi sakral (ideologisasi/indoktrinasi) di dalam kebenaran yang dipegang. Akhirnya, kekerasan pun diterjemahkan sebagai tindakan doktrinal yang sakral, suci, dan mulia. Inilah yang menggiring para pelaku kekerasan memekikkan kata-kata sakral ketika memproduksi kekerasan. Jika kekerasan atas nama negara, maka pekikan berubah untuk membela negara dan bangsa. Namun, jika klaim kebenaran bersembunyi di balik jubah agama, yang terpekik adalah kalimat-kalimat ‘Tuhan’.

Kebenaran yang hakiki dan abadi hanya milik Tuhan. Manusia hanya mengendalikan serpihan-serpihan dari kebenaran sejati. Akal manusia tidak akan pernah mampu menggapai sepenuhnya kebenaran mutlak yang tanpa cela dan tanpa koreksi. Saat manusia berusaha mengidentifikasi kebenaran, di kala itulah dia melakukan proses penafsiran. Karena dia melakukan proses penafsiran, makna yang ditangkapnya pun bukan kebenaran mutlak, melainkan kenisbian yang masih memberi ruang residu kesalahan.

Oleh karena itu, kekerasan sejatinya tidak dekat dengan kebenaran, melainkan merupakan wajah lain dari hasrat kekuasaan. Membela kebenaran hakikatnya adalah membela kekuasaan. Kekerasaan merupakan strategi subjek untuk membungkam gerak sesuatu yang dianggap mengancam kekuasaan di luar dirinya (the other), bukan untuk melindungi kebenaran sebagaimana diyakini pelaku kekerasan. Rasa keterancaman yang sangat kepada entitas lain kemudian memunculkan reaksi menumpas entitas yang mengancam tersebut, sehingga kekerasan dijadikan medium untuk menumpasnya.

Kekerasan meluluhkan dan mencederai etika berbangsa kita. Pertikaian dan perpecahan sesama anak bangsa tidak dapat dielakkan. Semua entitas ingin menguasai orang lain dengan menghujamkan kekerasan, bukan kedamaian. Etika dan moral berbangsa pun terancam roboh. Inikah tesis yang dimaksud Rene Girard (Sindhunata, 2007: 333) bahwa tatanan sosial, khususnya agama, dibangun dari batu-batu cadas kekerasan?

Segala kekerasan dan atas nama apa tidak dapat dibiarkan. Perilaku kekerasan yang kita mainkan secara telanjang ke publik tidak akan melahirkan keharmonisan dalam membangun tatanan sosial dan politik yang kukuh. Kekerasan hanya melahirkan realitas semu. Rezim kekerasan tidak akan mampu membangun stabilitas esensial, melainkan menyuguhkan stabilitas artifisial. Sebab, di dalamnya akan bergemuruh dendam dan kebencian untuk menularkan kekerasan baru, saling bunuh, dan saling menumbangkan.

Rezim kekerasan harus ditumbangkan dan diganti dengan bangunan tatanan yang indah dan menenteramkan. Jika kekerasan terus kita mainkan dalam segala ruang aktivitas politik, sosial, budaya, dan berbangsa kita, maka bangsa dan bahasa persatuan kita akan diganti oleh bahasa kekerasan. Bangsa ini sudah jengah dengan bahasa kekerasan yang dapat menenggelamkan ke jurang perpecahan komunal.

Oleh karnanya, siapa pun percaya bahwa kekerasan tidak akan pernah bisa tumbang melalui pidato keprihatinan, apalagi itu terucap dari mulut pemimpin. Butuh ketegasan pemimpin untuk tidak mentolerir segala macam kekerasan. Kini, seluruh pemimpin bangsa ini harus merenung akan memilih yang mana, menghentikan atau membiarkan kekerasan itu bergerak menjadi ‘penyakit’ yang berjangkit ke dalam seluruh kehidupan kita? ***

Iklan
Memutus Sumbu Kekerasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s