FAREWELL, NEW GENERATION

SEOLAH hendak menjawab pertanyaan Ernest Hemingway, For whom the bell my tolls, sang liberal yang beberapa bulan lalu menyapa masyarakat lewat iklan politiknya, if there is will, there is way, menegaskan my bell tolls for them, yakni kepada mereka yang merindukan penyegaran dan perubahan dedikasinya dia persembahkan. Tapi, langkahnya mundur dari rencana besar yang ingin dia capai. “Saya sudah mencoba dan ternyata memang belum bisa,” demikian dia ungkap dalam surat permisahannya, Farewell, My Friends. Rizal Mallarangeng.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas lebih dalam siapa sosok itu yang terang-terangan menyebut dirinya kaum liberal yang “bermimpi” menjadi libertian di Indonesia. Di samping saya tidak tahu rekam sejarahnya, juga saya tidak tertarik dengan liberal. Tapi saya bukan pendukung konservatif/sosialis/kiri. Aku hanya merasa aku orang Indonesia saja, kata Dewa 19. Yah, Indonesia kebenaran, kejujuran, dan Indonesia ke-adil-an.

Celli, demikian sapaan kecilnya, menyatakan dirinya mundur dari pencalonan mejadi Capres 2009 dihadapan pers seusai acara peluncuran bukunya “Dari Langit” setebal 659 halaman, Rabu 19 November lalu di Goethe Institut. Saat itu saya menyaksikan Goenawan Mohamad, Ayu Utami, dan beberapa rekan turut memberi apresiasi atas buku Celli. Hamid Basayaib mengawal jalannya acara.

Petualangan Celli sama seperti beberapa kalangan muda, M. Fadjroel Rachman, Yuddy Chrisnandi, dan lainnya yang hanya ingin menggedor tradisi, berharap ruang baru terbuka. Tapi, regulasi politik sudah diketok. Yang besar tetap menancapkan hegemoni. Demi menguatkan eksekutif dalihnya, 25 persen pun dipatok. Yang muda berguguran.

Mimpi pun tertunda. Mimpi munculnya Obama, 47 tahun, seperti di Amerika dan Medvedev, 44 tahun di Rusia, sirna. Atau mimpi darah HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Sjahrir mengijeksi kembali tubuh zaman Indonesia kini dengan darah muda yang kaya imajinasi pembaruan, pupus sudah.

“….please give some space to our new generation,” demikian pinta Celli kepada para generasi lapuk saat ini.(Dari Langit, 2008 : 645).

Iklan
FAREWELL, NEW GENERATION

TAWA YANG TAK MENGHAPUS LUKA

orang-miskin2

DITENGAH keletihan karena seharian bergelut dengan apa yang sering orang sebut sebagai ilmu pengetahuan — meski hingga kini aku belum mampu menjawab secara konsisten untuk apa aku mati-matian mencarinya –, dipinggir jalan terlihat seorang anak bercengkrama dengan ayahnya. Di pinggir trotoar ruko sebuah jalan di daerah yang bersebelahan dengan kawasan elite Menteng. Berharta sebuah gerobak pengangkut rongsokan di sisi mereka.

Canda antara bocah dan ayah begitu lepas. Tawa cekikikan si bocah terdengar lucu dan menggemaskan. Sebuah dunia di antara mereka yang sama sekali berbeda. Si anak yang kira-kira berusia dua tahun melihat dunia apa adanya, lucu, dan penuh keceriaan. Tidak pernah berfikir dalam benaknya jika dunia yang di sekelilingnya digerakkan oleh sistem yang tidak menghendaki mereka ada dengan tawa.

Si Ayah berbeda. Tawa yang dia suguhkan kepada bocahnya hanya bungkus agar si bocah tidak mengetahui kehidupan yang sebenarnya. Anak sekecil itu belum saatnya tahu betapa para pemimpin dan kaum terpelajar terkerangkeng oleh sistem yang menghisap nasib mereka. Tawa sang Ayah hanya ingin menyembunyikan jeritan hatinya bahwa “nak, kita tidur di trotoar tanpa dinding, beratap langit, dan disapu dinginnya angin malam jalanan yang kotor.”

Rumahnya adalah seluruh trotoar yang ada di Jakarta. Itupun hanya trotoar pinggir ruko yang masih membolehkan sampah-sampah berserakan. Karena trotoar di ruko-ruko mega besar (mall, hypermarket,dll), jangankan gerobaknya yang peot, melihat wajah compeng badannya yang kotor dan dekil saja, para satgas negara akan siap mengobrak-abrik mereka. Tawa yang tak menghapus luka.

TAWA YANG TAK MENGHAPUS LUKA

Langit, Terima Kasih Bumi…

hil”Yah, capek bung jadi prajurit,” ”kerja lagi, kerja lagi,” ”aduh..males sekali kerja !.” Kalimat itu hampir selalu aku dengar jika aku ketemu dengannya, di tempat tongkrongan pinggir jalan Saharjo atau di mana saja. Biasanya, sambil isap rokok menatap ke depan dengan mata kosong.

Itulah manusia, selalu ada yang bolong dalam setiap tapak yang dipijaknya. Selalu ada yang kurang dalam setiap langkah yang dilaluinya. Bagiku, rasa bolong dan kurang itu merupakan mekanisme jiwa yang sengaja diciptakan agar manusia bergerak progress ke arah yang lebih baik. Manusia menjadi dinamis, tidak statis. Zaman pun lahir.

Bukan itu masalahnya. Kadang manusia ingin mendaki langit, tapi lupa berterima kasih kepada bumi yang memberikan kehidupan. Ingin maju, tapi tidak berterima kasih pada diri sendiri atas posisi yang dipijak, lupa jika dulu pernah mengimajikan posisi yang ditempatinya sekarang ini.

Melihat saudara tua bersekolah, bermimpi ingin cepat sekolah. Tapi saat bisa sekolah, mengeluh. Ketika teman-teman sebaya kuliah, ingin merasakan dunia kampus. Tapi begitu jadi mahasiswa, mengeluh. Teman-teman seangkatan wisuda, ingin bergelar sarjana. Waktu gelar itu direngkuh, mengeluh.  Disaat menganggur, ingin mendapat kerja. Tapi ketika bekerja, mengeluh.

Memang benar apa yang dikatakan John Dewey bahwa berhasil meraih tujuan adalah titik awal tujuan baru. Tetapi menuruku, tujuan baru itu akan bergerak ke arah yang progressif ketika seseorang memainkan perannya dengan baik dalam status yang diembannya. Bukan dengan keluhan yang terlafal. Hhmmmmmm…..

Langit, Terima Kasih Bumi…

BUDAYA DADU

MESKI pagi, ternyata Jakarta sudah diselimuti udara panas. Keringat membasahi sebagian tubuhku, berlari, berharap yang ku tunggu segera tiba. Ternyata kesal. Sengaja berangkat pagi banget, kereta tidak kunjug datang. Jam sudah pukul 08.00. Kuliah pasti sudah mulai. Jarak tempuh ke Depok saja sudah makan waktu setengah jam. Jika dihitung, menunggu kereta jauh lebih lama daripada waktu tempuhnya ke depok.

”Kereta jurusan bogor mengalami keterlambatan…,” begitu kata petugas stasiun lewat pengeras suara. Sial, kok baru sekarang dibilang. Terus, siapa yang mau ngehukum jika kereta terlambat ?. Ujungnya, aku telat lagi nyampe kampus.

Hhmmm…kejadian kemarin kembali terngiang. Dengan nafas ngos-ngosan aku masuk kelas, padahal teman-teman sudah mulai berdebat sengit. Dosen tidak menegur sih, cuma hati yang risih jika datang tidak tepat waktu (sejak kapan aku mulai disiplin ya…?!). Mungkin karena aku kesiangan, jadi ketinggalan kereta. Besok aku harus berangkat pagi-pagi betul, pikirku saat itu. Ternyata…?!

Apa yag salah dengan sistem transportasi kita ?. Bukankah transportasi diciptakan untuk mengefisienkan waktu, tenaga, dan biaya ? Itulah masalah ibu kota. Menggunakan mobil macet. Pake sepeda motor, saling seruduk. Tranportasi bus, apalagi. Lihat saja, Bus Transjakarta yang dibuat untuk pengevisienan. Memang sih cukup efektif di jalan, tapi ”MACET FULL !!” ketika ngantre di halte !!, nggak percaya ?, coba aja sekitar pukul 17.00 pergi ke halte dukuh atas, pasti kamu nyangka para penumpang itu kereta api..

Tapi itulah budaya kita, berputar dalam ketidakpastian, seperti bermain dadu….

BUDAYA DADU

Pemuda Indonesia, Bangkitlah !

Suara Karya Jumat 31 Oktober 2008

DALAM sejarah, pemuda memainkan peranan penting dalam menopang kemajuan bangsa. Beberapa tokoh muncul menjadi pemimpin di kala mereka berusia muda, sebut saja Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka. Jiwa muda yang terdidik menjadi modal signifikan dalam menjemput perubahan.

Dari tahun 1908 hingga kemerdekaan 1945, dari Malari 14 Januari 1974 hingga reformasi 1998, kolaborasi darah muda nan terdidik menjadi kekuatan yang mampu meruntuhkan tirani koloni.

Lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah bukti sejarah betapa pemuda menjadi inspirator pemersatu. Seluruh unsur pemuda berkumpul dalam satu tujuan seperti Trikoro Darmo atau Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten Bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, dan beberapa kelompok pemuda lainnya. Ikrar tersebut menginspirasi unifikasi kebangsaan.

Dengan spirit membangun persatuan, mereka mampu mematahkan tuduhan Hendrikus Colijn saat itu yang menganggap gagasan kesatuan Indonesia sebagai gagasan utopis. Sejarah senantiasa memihak kaum muda. Di banyak bangsa, perubahan dikendalikan kelompok muda. Sebab, kaum muda diyakini memiliki gagasan-gagasan yang cemerlang, brilian, dan inovatif dalam menyusun perubahan sehingga lebih cepat menangkap semangat zaman.

Pemuda hingga kini masih menjadi jantung pembaruan nasional. Kiprah dan sumbangsih kaum muda dalam segala sektor diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam membesarkan bangsa yang sampai saat ini berada dalam krisis multidimensi. Semangat perubahan pemuda harus tetap berjalan dan tertanam. Sebab, dalam kondisi apa pun, posisi pemuda berpotensi menjadi penyeimbang sistem atau semacam kontrol bagi ruang sosial di sekelilingnya. Inilah peran yang selalu dinantikan anak zamannya.

Selalu ada kesenjangan antara das sein dan das sollen. Rentangan tidak selamanya berjalan dalam garis yang linier. Begitu juga dengan gerak pemuda Indonesia, senantiasa berada dalam gerakan yang fluktuatif. Terkadang berada dalam garis yang progresif dan menanjak, tetapi juga tidak jarang mengalami masa-masa kritis. Jika kondisi pemuda sudah mengalami kondisi kritis, ini menandakan tantangan makin besar. Ada sistem yang tidak berjalan yang cenderung memperlemah peran dan kekuatan pemuda sebagai agent of social change.

Kini eksistensi pemuda sebagai pembaru dan penerus generasi untuk masa mendatang kian lumpuh dan rapuh. Pandangan tersebut ditopang oleh kenyataan bahwa pemuda dominan terjerembap dalam perilaku yang tidak lagi produktif. Mereka cenderung konsumtif dalam segala hal. Serangan budaya pop (pop culture) yang menerjang gaya hidup pemuda menjelma menjadi fakta sosial yang mengimpit dan menekan perilaku kaum muda bangsa dewasa ini. Misalnya, penyalahgunaan narkoba dan perilaku seks bebas yang terus meningkat.

Wacana nasionalisme tidak lagi menjadi wacana praksis yang populer di kalangan muda. Mereka larut dalam kebanggaan budaya luar dan dunia pop yang mengikis semangat nasionalisme. Nilai-nilai tradisi yang menjadi kebanggaan dan inspirasi pemersatu pemuda tahun 1928 terkikis. Kepedulian terhadap kondisi bangsa dan negara tidak lagi mewarnai perilaku pemuda. Akhirnya, semangat Jong Java, Jong Celebes, dan Jong Sumatranen Bond nyaris hilang dari perilaku generasi muda Indonesia dewasa ini.

Memang, ada kelompok-kelompok kecil (small groups) pemuda yang masih bergeliat menyongsong perubahan demi perubahan di Indonesia. Kelompok ini tidak hanya minoritas di kalangan muda secara umum, tetapi juga tereksklusi di tengah lingkungan mereka sendiri (universitas/kampus). Secara dominan, hanya segelintir pemuda yang terlibat aktif di dalam organisasi-organisasi kepemudaan. Sisanya adalah kalangan terdidik yang apatis terhadap realitas sosial.

Kendati demikian, bukan berarti krisis tidak melanda pemuda terdidik minor tersebut. Organisasi-organisasi kepemudaan mengalami disorientasi gerakan dan miskin imajinasi perubahan; gamang merespons dan tidak mampu mengawal reformasi 1998. Karena itu, krisis yang menimpa pemuda sudah merasuk ke seluruh lini sosial yang melumpuhkan peran strategis pemuda untuk membangun kemajuan bangsa Indonesia.

Wacana menghimpun kembali kekuatan pemuda yang tidak hanya berserak perlu dilakukan. Peran sosial pemuda harus dikembalikan. Jika tidak, martabat, moral, dan keberlangsungan bangsa Indonesia akan dipertaruhkan pada masa yang akan datang.

Tantangan pada masa depan bagi bangsa Indonesia jauh lebih besar daripada satu abad yang lalu. Kondisi ekonomi yang terus mengimpit di Indonesia, pada masa yang akan datang akan menjadi ledakan besar yang dapat mengancam keutuhan negara Indonesia jika tidak diantisipasi dengan menelurkan pemuda-pemuda yang berkualitas sebagai pemimpin masa depan.

Krisis ekonomi global saat ini mungkin akan menjadi titik balik formasi ekonomi baru di dunia pada masa yang akan datang, sebagaimana krisis global pada 1930-an yang menimpa belahan Eropa. Lantas, jika kaum muda Indonesia masih dihiasi oleh perilaku yang tidak lagi produktif dan apatis akan kondisi bangsanya, Indonesia tidak hanya akan dipandang sebelah mata, tetapi juga akan digilas oleh kekuatan-kekuatan bangsa di luar dirinya.***

Pemuda Indonesia, Bangkitlah !

WABAH POLITIK SIMULAKRA

HIRUK-pikuk perhelatan politik 2009 sudah terasa. Wacana dan propaganda politik mulai merasuki sendi-sendi ruang informasi keseharian; di warung, pasar, stasiun, dan bahkan di ruang keluarga sekalipun. Tidak hanya di jalan-jalan, para politisi mulai menghadirkan diri mereka melalui media-media massa. Sebuah trend kampanye politik yang mulai berkembang dimana media informasi menjadi medium untuk menampilkan citra (image), pesan, dan propaganda baru kepada masyarakat. Media menjadi pusat produksi citra politik yang diharapkan mampu memengaruhi pemilih.

Media menjadi kekuatan baru pada abad ini. Melalui tanda-tanda yang disebarkannya, media mampu melipat dunia yang demikian luas menjadi desa global yang mungil (the global village). Denis McQuail dalam Mass Communication Theory-nya pernah menulis bahwa media merupakan pembentuk opini dan pengetahuan yang tidak dapat dihindari dalam masyarakat modern. Perkembangan dunia komunikasi dan teknologi tidak hanya, apa yang dikatakan Marshal McLuhan maupun Baudrillard, mengaburkan medium dan pesan, tetapi juga mampu membangun realitas palsu di atas realitas yang sebenarnya. Inilah kekuatan media yang selalu diburu.

Para politisi membangun kampanye politik yang tidak jarang – untuk tidak mengatakan acapkali – berbeda dengan fakta diri mereka yang sebenarnya. Melalui kekuatan citra media para politisi hendak tampil sempurna dihadapan publik meski citra media tersebut berbeda dengan sosok sejati politisi. Seorang yang dahulunya dikenal sebagai sosok yang jauh dari simbol dan perilaku ke-santri-an, tiba-tiba hadir di media dengan wajah yang penuh dengan citra negarawan yang religius. Sosok yang dahulunya dikenal kasar, justru menampilkan wajah dan citra yang humanis. Sebuah ”realitas” yang berbeda dari realitas yang sebenarnya.

 Propaganda politik yang di atas itulah yang kemudian disebut simulasi atau diistilahkan Jean Baudrillard dan Umberto Eco sebagai simulakra (simulacrum). Simulakra hadir sebagai realitas “jiplakan” yang sepenuhnya tidak merepresentasikan kenyataan yang sesungguhnya. Dalam kata lain, simulakra adalah bentuk dari representasi realitas yang menipu (false representation), dikonstruk secara instan untuk menghadirkan citra baru dalam diri objek yang dijadikan sebagai pusat citra. Pada level ini, realitas atau fakta yang sebenarnya menjadi tidak penting, karena sengaja dieliminasi dan dikebiri oleh citra pesan yang dihadirkan melalui iklan-iklan politik media tersebut.

   Oleh karena itu, tidak heran jika para tokoh yang dahulunya dikenal keras dan militeristik secara instan tampil dalam iklan politiknya menjadi sosok yang humanis. Partai yang melekat dengan citra abangan berusaha menampilkan dimensi santri, menyematkan titel haji/hajjah sebagai bagian dari identitasnya. Ada juga yang menyuguhkan citra populis, padahal dalam sepak terjang ekonomi-politiknya meyakini sistem neoliberal sebagai yang terbaik. Akhirnya apa yang dikritik oleh Katz (1960) benar-benar terjadi bahwa individu atau massa dianggap sebagai objek propaganda dan penipuan.

Gerak politik simulakra tersebut membawa ekses pendangkalan yang menjadi cermin sistem politik menipu kita. Kondisi masyarakat yang permisif dan daya memorinya yang pendek terhadap rekam sejarah membawa gaya politik simulakra menjadi efektif dan kian mewabah. Kenyataan ini semakin menyedihkan ketika ditambah dengan kemiskinan ideologi yang dimiliki para politisi dan partai-partai yang ada, sehingga konten propaganda pun cenderung pragmatis dan jauh dari membumi. Akhirnya, yang membedakan iklan politik figur/partai satu dengan yang lainnya hanya kemasan an sich, bukan program dan platform-nya.

 

Membendung?

Wabah dan gaya politik simulakra yang cenderung menyuguhkan false representation daripada true representation harus dibendung karena hanya akan membawa pendangkalan dalam masyarakat di semua aspek. Kelompok-kelompok yang memiliki kesadaran dan daya rekam yang kuat atas biografi para politisi, harus memberikan pemahaman kepada rakyat agar mereka dapat memosisikan para calon pemimpin mereka secara kritis. Mendesak negara untuk mengungkapkan dosa hukum para politisi yang terlibat korupsi, kolusi, kejahatan kemanusiaan, dan lainnya dapat juga menjadi kekuatan penyeimbang.

Kondisi masyarakat yang permisif, mudah lupa, dan pragmatis menjadi tantangan tersendiri dalam membendung gaya politik simulakra para politisi kita. Kondisi tersebut juga didukung oleh pandangan dunia politik rakyat yang cenderung irasional, paternalistik, primordialistik dan kharismatik sehingga sakralisasi figur acapkali muncul. Kesalahan figur kemudian diabaikan ketika mereka merupakan bagian dari kelompok kita yang justru menjadi sasaran empuk gaya politik simulakra.

Sementara itu, mengharapkan munculnya kesadaran langsung para politisi ibarat menggarami air laut, sia-sia belaka. Meskipun demikian para politisi tetap memikul tanggung jawab moral kepada rakyat untuk menampilkan kampanye diri yang tidak bertolak belakang dengan kenyataan diri mereka yang sebenarnya. Sudah seharusnya gaya kampanye dan iklan yang bervisi mencerdaskan dipraktikkan dihadapan publik bukan lantas dengan cara membodohi dan menipu rakyat dengan tanda dan simbol-simbol citra yang palsu. Sudah cukup rakyat dibodohi lewat sinetron dan iklan produk. Jika para pemimpin juga turut membodohi, lantas siapa yang mau mencerdaskan mereka?.[]

WABAH POLITIK SIMULAKRA

MENDADAK POLITISI

KEKUASAAN mengandung daya pikat yang luar biasa. Di dalamnya tidak hanya menyipan harta, tetapi juga kedigjayaan dan prestise. Seperti sistem yang menelusup ke ruang bawah sadar, semua entitas seolah dipaksa untuk masuk dan terlibat di dalamnya. Itulah yang saat ini kita saksikan dalam pentas politik nasional dimana semua kalangan berbondong-bondong masuk ke dunia politik, dari kalangan intelektual, ulama, pengusaha, hingga para selebriti. Semuanya mendadak politisi.

Keterlibatan kalangan selebriti yang berbondong-bondong terjun ke dunia politik memunculkan beragam tanggapan di masyarakat. Beberapa analis melemparkan nada sinis terhadap para selebriti yang mendadak memainkan peran politisi di panggung politik nasional yang jauh berbeda dengan dunia peran mereka di sinetron dan ketoprak. Demikian juga menyeruak keraguan terhadap para intelektual atas kemampuan mereka melawan sistem laku politik beringas di negeri ini jika terjun berpolitik.

Terlepas dari perdebatan di atas, kenyataan tersebut harus dilihat sebagai trend baru di dunia politik kita sebagai akibat dari gerak dominan model reformasi dan demokrasi yang berwajah electoral oriented. Gerak dominan demokrasi elektoral yang membawa pembaruan-pembaruan dalam perekrutan pemimpin membawa dampak pada pergeseran konfigurasi politik, baik di tingkat elite maupun pada level grass root. Akhirnya tidak dapat dihindari, perilaku politik elite mengalami pemuaian yang kadangkala berada di luar prediksi.

Partisipasi politik yang ditandai dengan bermunculannya politisi-politisi dadakan dari kalangan artis, akademisi, dan pengusaha menarik dicermati. Fenomena ini tentu tidak pernah terjadi pada era sebelumnya dimana pejabat birokrasi hanya didaulat cukup melalui kuasa jari telunjuk para penguasa dari pemilihan kepala desa, bupati hingga presiden. Rakyat tidak mendapat kuasa apapun untuk menentukan siapa pemimpinnya, karena dibungkam oleh sistem feodal otoritarian dari penguasa selama puluhan tahun.

Ketika kran yang terkatup rapat itu terbuka, maka euphoria politik tidak terelakkan. Ruang merebut negara menjadi terbuka, karena poros kuasa bergeser dari penguasa feodal-otoritarian yang introvet ke tangan rakyat yang ekstrovet. Pemimpin tidak lagi ditentukan oleh telunjuk jari penguasa tetapi bergantung pada tangan rakyat. Angin perubahan itulah yang perlu digarisbawahi yang membawa dampak pada perubahan konfigurasi dan perilaku politik kita. Dus, wajar jika semua kalangan kini terjangkit sindrom mendadak politisi.

Kendati demikian, prasyarat demokrasi harus dibangun dalam logika ekuilebriumitas politik yang stabil dan terkonsolidir. Yakni, bergerak pada keseimbangan antara elite dengan rakyat untuk mewujudkan tatanan politik baru yang benar-benar membawa kesejahteraan bagi rakyat seutuhnya. Ketika spirit ekuilebrium itu tidak berada dalam rotasi yang berimbang dan memberikan dampak pada pemelaratan rakyat, maka sistem dan perilaku politik itu perlu dikoreksi, bila perlu didekonstruksi secara total.

Fenomena mendadak politisi akhir-akhir ini justru berbading terbalik dengan tatanan yang seimbang di atas. Geliat mendadak politisi merupakan bentuk kelatahan atas kondisi pergeseran politik yang terjadi pada level elite demi memenuhi kepuasan personal. Ketidakseimbangan pun menganga ketika libido kuasa kalangan menengah (baca; artis, pengusaha, dll) untuk menduduki jabatan publik tidak berbanding lurus dengan mimpi rakyat untuk memperoleh kesejahteraan dan lepas dari kemiskinan.

Oleh karena itu, harus ada rekayasa untuk menyeimbangkan libido elite dalam merebut kekuasaan dalam fenomena mendadak politisi saat ini dengan mimpi rakyat akan tatanan negara yang benar-benar memikirkan nasib wong cilik.  Kejomplangan ini tidak hanya akan menciptakan tatanan politik distrust antara state dan society dalam memagari kepentingan rakyat, tetapi juga akan berdampak pada bangunan political state yang rapuh dan mudah goyah akibat kesenjangan kepentingan.

Kalangan elite yang ingin menjadi pejabat publik harus bergerak visioner sesuai dengan semangat dan mimpi rakyat, bukan untuk menyalurkan hasrat dan kepentingan pribadi. Ketika itu terwujud, kelak state akan dapat berfungsi maksimal dan tidak lagi berada pada posisi oposisi dengan society-nya.  Pertanyaannya kemudian, mungkinkah elite dan kalangan menengah yang berselebrasi politik mengiklankan diri sebagai sosok ideal pemimpin bangsa berorientasi mewujudkan mimpi kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya ?.

Rakyat bawah yang meskipun dianggap bodoh dan miskin tidak selamanya akan menjadi penonton yang mudah terbuai. Merekalah yang mampu membahasakan siapa pemimpin yang layak dipercaya menjadi penyambung lidah mereka. Semoga saja. []

MENDADAK POLITISI